Raskin di Penajam Diduga Dioplos Dengan Beras Lama

AH Ari B – Dika

 

Beras untuk rumah tangga miskin (raskin) yang tidak layak konsumsi (Subur - Hunas Setkab Penajam Paser Utara)

Beras untuk rumah tangga miskin (raskin) yang tidak layak konsumsi (Subur – Hunas Setkab Penajam Paser Utara)

Penajam, helloborneo.com – Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, menduga beras untuk rumah tangga miskin dari Perum Badan Urusan Logistik dioplos dengan beras yang sudah lama tersimpan di gudang sehingga tidak layak konsumsi.

Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah Penajam Paser Utara, Tohar, di Penajam, Jumat, mengungkapkan, tim menemukan ada beras lama yang tersimpan di gudang Bulog sejak tahun 2014. Sehingga diduga beras tersebut dioplos dengan beras baru untuk dibagikan kepada masyarakat kurang mampu.

“Kami meminta agar tim raskin kecamatan mensortir raskin yang akan dibagikan, karena beras itu dicurigai dioplos dengan beras lama yang disimpan di gudang sehingga tidak layak konsumsi karena mengeluarkan bau apek, berkutu dan berwarna kuning ,” kata Tohar.

“Ketika tim dari Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker) melakukan pengecekan ke gudang Bulog Desa Labangka, Kecamatan Babulu menemukan beras yang tersimpan sejak 2014 lalu,” ungkapnya.

Kualitas beras untuk rumah tangga miskin yang tidak layak konsumsi tersebut, lanut Tohar, betentangan dengan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 5 Tahun 2015 tentang kebijakan pengadaan gabah atau beras dan penyaluran beras oleh pemerintah.

“Bulog harus dapat menjaga dan meningkatkan kualitas raskin yang disalurkan kepada masyarakat kurang mampu,” tegasnya.

Wakil Bupati Penajam Paser Utara, Mustaqim Mz menyatakan, seharusnya kecamatan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu terhadap beras untuk rumah tangga miskin tersebut sebelum disalurkan kepada warga yang berhak menerima.

“Kalau berasnya berwarna kuning dan berkutu serta bau apek jangan dulu dibagikan, jadi kecamatan cek dulu kondisi beras sebelum disalurkan kepada masyarakat,” katanya.

“Masa warga dikasih beras jelek, ada kutunya, bau apek dan berwarna kuning. Saya juga tidak mengerti dan tidak habis pikir,” ujar Mustaqim.

Ketika mencoba meminta klarifikasi kepada Kepala Perum Bulog Paser-Penajam Paser Utara, Ariston Setiawan melalui telepon seluler, namun tidak ada respon atau teleponnya tidak diangkat. (bp/*log)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.