Membumikan Pesan Nabi Muhammad SAW di Bulan Suci Ramadhan

Hizqil Ahmad Dayan – Staf Bagian Kesra Setkab Penajam Paser Utara

 

Hizqil Ahmad Dayan - Staf Bagian Kesra Setkab Penajam Paser Utara

Hizqil Ahmad Dayan – Staf Bagian Kesra Setkab Penajam Paser Utara

Penajam, helloborneo.com – Di bulan suci Ramadhan, ketika Nabi SAW menaiki mimbar (bukan podium) pada tangga pertama, tiba-tiba Rasulullah SAW mengucapkan “amiin”. Begitu menaiki tangga ke-2, Nabi SAW mengucapkan “amiin’’, hingga tangga ke-3, Nabi SAW mengucapkan “amiin’’. Padahal, tidak satupun orang di dekat Rasulullah SAW.

Ketika usai Khutbah Nabi Muhammad SAW ditanya oleh para sahabat seputar ucapanya “amiin’’ tadi. Karena Amiin itu bagian dari doa. Nabi-pun menjelaskan bahwa dirinya saat menaiki tangga pertama, ada Malaikat Jibril datang dan menghampirinya kemudian berdoa yang isinya sebagai berikut :

  • Rasulullah SAW bersabda:”celaka sekali bagi orang yang mendapatkan Bulan Suci Ramadhan, tetapi dia tidak mendapatkan ampunan Allah SWT. Maka Nabi-pun meng-aminya doa malaikat Jibril as.
  • Ketika Nabi SAW menaiki tangga mimbar yang ke-2, Jibril as berdoa:’’ celaka (rugi) bagi orang yang ketika di sebutkan namaku (sholawat), tidak disambut dengan bersholawat. Nabi-pun meng-amini doa malaikat Jibril as.
  • Ketika menaiki tangga ke-3, Jibril as berdoa:’’ celaka (rugi) sekali bagi orang yang mendapatkan kedua orang tuanya yang lansia (salah satunya), tetapi tidak membuat dirinya masuk surga”. Mendengar Jibril as berdoa demikian, Nabi-pun meng-amininya.

Tiga pesan ini sangat penting dan wajib bagi setiap muslim untuk melaksanakannya. Bulan Ramadhan ini merupakan kesempatan bagi setiap muslim untuk memperbanyak ibadah, seperti sholat, puasa, sedekah, membaca Al-Quran, serta membangun silaturrahim dengan sesama untuk mendapatkan magfirah Allah SWT.

Jangan sampai bulan suci ini berjalan dengan sia-sia, dan tidak berguna. Ibarat seorang pedagang, bulan Ramadhan ini waktu terbaik untuk mendapatkan keuntungan yang sebanyak-banyak. Jika pada musim Ramadhan ini tidak mendapatkan keuntungan uhrowi(ahirat) maka ramadhan itu termasuk merugi.

Tidak lupa, pada Bulan Suci Ramadhan ini, Nabi Muhammad SAW mengisyaratkan kepada pengikutnya dimana saja berada untuk memperbanyak sholawat kepadanya. Sholatat yang terucap itu bagian dari bentuk cinta dan rindu kepada Rosulullah SAW. Sholat yang terucap setiap saat dan waktu juga menjadi bentuk rasa syukur atas perjuangan Nabi Muhammad SAW di dalam memperjuangan Agama Allah SWT.

Manusia sekarang mengenal agama Allah SWT, itu karena kerja keras dan perjuangan Rosulullah SAW dan cinta Rosulullah SAW kepada umatnya. Kelak cinta kepada Nabi Muhammad SAW, akan menjadi bekal abadi untuk berjumpa dengan Rosulullah SAW dan Allah SWT. Ulama Salaf mengatakan:”batas minimal sholawat itu kurang lebih 300-400/hari’’. Bukankan tanda-tanda cinta kepada orang yang dicintai itu banyak menyebut namanya dan bangga dengannya.

Selanjutnya, Nabi SAW menyebutkan orang tua. Artinya, orangtua itu sumber inspirasi, sumber kebahagiaan, dan sumber ridho. Tidak ada satupun cinta, melebihi besarnya cinta orang tua kepada anak-anaknya. Ke-Ihlasan seorang ibu di dalam mendidik, membesarkan, dan memberikan segalanya kepada putra-putrinya benar-benar karena rasa cinta dan ihlas karena Allah SWT. Tidak satupun dari seorang ibu yang berjuang mati-matian demi anak-anaknya, kemudian meminta untuk dibalasnya. Begitulah gambaran cinta Rasulullah SAW kepada umatnya.

Tidaklah berlebihan jika bulan puasa ini momen paling penting untuk memberikan perhatian yang terbaik untuk kedua orang tunya. Baik itu perhatian dalam bentuk materi, pelayanan, dan perhatian, serta memberikan apa yang dibutuhkan kedua orang tua. Jangan sampai orang tua merasa tidak dilayani, tidak diperhatikan dan tidak memiliki duit, sementara putra-putrinya selalu dalam kondisi enak dan berkecukupan.

Sejauh mana anak melayani, memperhatikan, dan membahagiakan kedua orang tuanya, maka sejauh itu pula Allah SWT akan memberikan perhatian-Nya dan kebahagiaan kepadanya. Sejauh mana seorang anak menyakiti, meninggalkan, dan tidak memperhatikan kedua orang tuanya, maka sejauh itu pula Allah SWT akan menelantarkannya. Sayangilah kedua orang tua kalian, niscaya anak-anakmu kelak akan menyangi kalian semuanya, bahkan akan melebihi kasih sayangmu. Sesungguhnya, ridho Allah SWT itu terletak pada ridho kedua orang tua.

Begitulah pesan Rasulullah SAW kepada umatnya. Begitu penting ridho orang tua, sampai-sampai Rosulullah SAW melakukan ziarah ke Makam Ibunya yang begitu jauh dari Madinah, walaupun sang Ibunda di makamnya di tempat yang amat jauh (abaw). Ratusan kilo meter. Ketika Nabi Muhammad SAW sampai di makam ibunya, Nabi Muhammad SAW menanggis tersedu-sedu hingga air matanya membahasi kedua pipinya yang begitu putih nan halus. Bahkan, sahabat-sahabat yang ikut serta dalam rombongan ikut serta larut dalam tanggisan.

Pada bulan puasa, begitu juga usai sholat idul fitri dilaksankan, sebagian orang berziarah ke makam orang tuanya masing-masing yang telah tiada. Mereka ingin seperti Nabi Muhammad SAW yang ingin berbuat baik dan berbakti dengan cara berziarah dan mendokanya. Begitulan cara Rosulullah SAW mengajarkan bagaimana mencintai orang tuanya yang sudah tiada ketika sang orang sudah wafat. Mendoakan orang tua itu bagian dari Ibadah kepada Allah SWT dan baktinya, sekaligus bentuk rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW, karena menjalankan sunnah ziarah kubur. (bp/*esa)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.