Legislator Penajam Pertanyakan Larangan Mengisi Premium

Suherman

 

Penajam, helloborneo.com – Legislator dari Komisi II DPRD Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Suyadi mempertanyakan larangan mobil dinas mengisi bahan bakar atau BBM jenis bensin (gasoline) RON 88, atau biasa disebut Premium di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di daerah itu.

“Aturan baru yang diterbitkan Kepala Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), terkait BBM untuk kendaraan dinas, pertambangan dan perkebunan, merubah kebijakan pemerintah terkait izin pemakaian bahan bakar untuk kendaraan operasional dinas,” jelas Suyadi, di Penajam, Selasa.

“Sesuai surat edaran itu kendaraan dinas plat merah dibolehkan lagi menggunakan BBM jenis Premium,” kata Suyadi.

Surat edaran tersebut, lanjutnya, menindaklanjuti surat yang dikeluarkan kepala BPH Migas Nomor 120/07/Ka BPH 2015 pada 12 Februari 2015. Dalam surat edaran disebutkan bahwa kendaraan dinas pemerintah diperbolehkan menggunakan Premium, karena BBM RON 88 kini tidak lagi disubsidi.

Meski Peraturan Presiden Nomor 191 Tahun 2014, kata Suyadi, menyetujui penggunaan Premium untuk kendaraan dinas pelat merah, namun tidak untuk penggunaan solar. Karena pemerintah masih memberikan subsidi tetap bagi BBM jenis solar sebesar Rp1.000 per liter.

Namun ketika mengisi BBM, lanjutnya, di stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) di kilometer 9, petugas SPBU meminta keluar dari antrean pengisian BBM jenis Premium dengan alasan menggunakan plat merah atau kendaraan dinas.

“Ketika saya sudah mengantri panjang, saya diminta keluar antrean karena menggunakan mobil pelat merah. Padahal di Balikpapan boleh mengisi Premium walaupun plat merah,” ungkap Suyadi.

“Seharusnya pihak SPBU sudah memperbolehkan mobil plat merah mengisi bensin Premium sesuai surat edaran tentang pemakaian BBM untuk kendaraan dinas, pertambangan dan perkebunan,” tegasnya.

Sementara itu, petugas SPBU di kilometer 9, mengatakan hanya mengikuti intruksi pimpinan. Bahwa mobil pelat merah hanya diperbolehkan mengisi BBM Jenis Pertamax, dan tidak bisa berbuat yang menyalahi instruksi karena terus diawasi kamera “closed-circuit television” (CCTV). (adv/bp/*esa)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.