Sampah di Penajam Mampu Produksi Listrik 3.000 Watt

AH Ari B

Ketua DPRD, Nanang Alie dan Wakil Ketua DPRD, Syahruddin M Noor mengikuti bersih-bersih pantai pada kegiatan pesisir berseri 2015 di pantai Corong Tanjung Jumlai (M Miftah Nugraha - Humas DPRD Penajam Paser Utara)

Ketua DPRD, Nanang Alie dan Wakil Ketua DPRD, Syahruddin M Noor mengikuti bersih-bersih pantai pada kegiatan pesisir berseri 2015 di pantai Corong Tanjung Jumlai (M Miftah Nugraha – Humas DPRD Penajam Paser Utara)

Penajam, helloborneo.com – Sekitar 30 ton sampah yang dihasilkan masyarakat Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur per hari, yang ditempatkan di tempat pembuangan sampah akhir (TPA) Buluminung mampu menghasilkan energi listrik sekitar 3.000 Watt.

“Rata-rata produksi sampah warga di kabupaten ini mencapai sekitar 30 ton per hari, dari sampah itu bisa diolah menjadi energi listrik mencapai sekitar 3.000 Watt,” ungkap Kepala Bidang Kebersihan Dinas Kebersihan, Pertamanan dan Pemakaman (DKPP) Kabupaten Penajam Paser Utara, Edi Hasmoro, di Penajam, Senin.

Tahap awal DKPP Kabupaten Penajam Paser Utara, lanjut dia, baru memasang satu unit mesin pengolahan sampah yang memiliki kapasitas produksi enegri listrik sebesar 4.000 Watt. Dan dari empat sumur gas metana saat ini baru mampu memproduksi listrik sekitar 3.000 Watt.

“Empat sumur gas metana dengan satu mesin pengolahan sampah di TPA Buluminung itu baru bisa produksi listrik 3.000 Watt,” kata Edi Hasmoro.

“Produksi listrik itu digunakan untuk penerangan serta mengoperasionalkan jembatan timbang dan komputer di TPA Buluminung,” jelasnya.

Pemanfaatan gas metana di TPA Buluminung tersebut, kata Edi Hasmoro, dipergunakan untuk keperluan mamasak dan memenuhi kebutuhan listrik di sekitar TPA Buluminung secara bergantian. Dengan adanya energi listrik dari pengolahan sampah tersebut dapat menekan biaya operasional mesin genset sampai Rp1 juta per bulan.

“Gas metana dari pengolahan sampah di TPA Buluminung digunakan secara bergantian untuk keperluan mamasak dan memenuhi kebutuhan listrik sehingga biaya operasional genset kni berkuran hingga Rp1 juta per bulan,” ungkapnya.

DKPP Kabupaten Penajam Paser Utara, kata Edi Hasmoro, akan menambah enam titik sumur gas metana, sehingga dari pengolahan produksi sampah masyarakat yang mencapai 30 sekitar ton per hari tersebut dapat menghasilkan energi listrik minimal sekitar 6.000 Watt. (bp/*log)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.