Bupati Penajam : Toleransi Beragama di Rusia Sangat Baik

Suherman

 

Bupati Penajam Paser Utara, Yusran Aspar (Suherman _ Hello Borneo)

Bupati Penajam Paser Utara, Yusran Aspar (Suherman _ Hello Borneo)

Penajam helloborneo.com – Opini bahwa Rusia sebagai salah satu negara atheis kata Bupati Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Yusran Aspar, tidak benar karena sesuai kenyataan toleransi beragama di Ruisia sangat tinggi.

“Bangunan rumah ibadah di Rusia tidak ada bandingnya dengan bangunan rumah ibadah yang ada Indonesia,” kata Bupati Yusran Aspar di Penajam, Selasa.

Di Kazan Rusia, menurutnya, penganut agama Islam mencapai 70 persen. Konon umat Islam di daerah tersebut pada zaman Kekaisaran Rusia pernah diserang dan umat Islam menyerahkan masjid di daerah itu dijadikan gereja.

Namun pada abad ke-16 sampai abad 18, lanjut Yusran Aspar, Kaisar Rusia membangun kembali masjid yang lebih megah dan indah di daerah setempat yang lokasinya tidak jauh dari lokasi masjid sebelumnya, dan sampai sekarang masjid tersebut masih berdiri dengan magah dan indah.

Selain itu di St Petersburg, kata bupati, ada Masjid Soekarno yang pada zaman Kekaisaran Rusia dijadikan gereja karena pada zaman itu masyarakatnya mayoritas menganut agama Kristen ortodok. Namun pada saat Presiden RI Soekarno berkunjung ke Rusia meminta gereja tersebut dikembalikan fungsinya sebagai masjid dan Kekaisaran Rusia menyetujui permintaan tersebut.

“Persetujuan Kekaisaran Rusia itu merupakan bentuk toleransi umat beragama di Rusia sangat baik dan sampai sekarang masjid masih berdiri dengan namam Masjid Soekarno,” jelas Yusran Aspar.

Di negara Ruisa, tambah bupati, tidak pernah mempersoalkan agama yang dianut warga negaranya karena pendekatan agama dilakukan secara personal atau humanisme, kemungkinan hal itu menjadikan pandangan tentang Rusia sebagai salah satu negara ateis.

“Di warga negara Rusia dipersilakan menganut agama sesuai keyakinan masing-masing, dan negara tidak mengurusi persoalan agama, tapi tolerasi umat bergama sangat baik di negara pecahan Uni Soviet itu,” ungkap Yusran Aspar. (bp/*esa)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.