Desember, Loading Point Sawit di Paser Terancam Tutup

Rapal JKN

 

PPNS Disprindakop Kabupaten Paser Marwan Sidik

PPNS Disprindakop Kabupaten Paser Marwan Sidik

Tana Paser, helloborneo.com – Sejak menurunnya harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit 3 bulan ini, keberadaan loading point (pengepul) sawit jadi sorotan. Pasalnya selain keberadaannya tak berizin, rendahnya harga TBS yang ditetapkan dan ketidak pastian harga juga menjadi penyebab terancam ditutupnya loading point.

Pengawas Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Disprindakop-UMKM Kabupaten Paser, Marwan Natsir yang dijumpai helloborneo.com mengatakan, sebelumnya loading point ini sudah ada. Dan izinnya pun ada, hanya saja keterangannya bukan izin loading point melainkan izin jual beli TBS sawit.

Ditengah lesunya harga sawit, justru banyak loading muncul dan tak berizin. Oleh sebab itu melalui koordinasi yang pihaknya lakukan, mulai Desember mendatang menjadi harga mati, pengusaha loading point harus mengurus perizinannya untuk menentukan lanjut atau tidak usahanya tersebut.

“Sebenarnya loading point inikan sudah lama ada, hanya saja karena lesunya usaha sawit, mereka dengan seenaknya menetapkan harga TBS,” jelasnya.

“Dan dari data kami, ada sekitar 60 loading point yang tak berizin, dan Desember nanti kami akan melakukan eksekusi penutupan bila memang tak ada upaya untuk mengikuti prosedur, sambil melakukan penyusunan Perbub dari hasil rapat yang lalu,” papar Marwan.

Lanjut Marwan, sebenarnya pihaknya tak ingin memperumit persoalan loading point yang sudah terlanjur beroperasi di Kabupaten Paser. Bahkan pihaknya memberikan tenggang waktu hingga akhir Desember mendatang untuk, memberikan kesempatan bagi para pemilik loading point untuk mengikuti aturan yang ada di daerah.

Pasalnya ditengah ekonomi lesu, dengan menutup tempat usaha bukan merupakan solusi yang terbaik. Karena justru akan menambah deretan pengangguran di Kabupaten Paser.

“Adanya loading point ini, sudah terlanjur. Sehingga susah bila ingin langsung menutupnya. Belum lagi dampaknya yang akan menambah jumlah pencari kerja di daerah,” terang Marwan.

“Oleh sebab itu kami masih memberikan kesempatan, justru kalau kami dari Disprindakop ingin mempermudah dan mempercepat permasalahan loading point ini,” pungkasnya. (rol)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.