Kisah Pengidap HIV Positif

Bagus Purwa

 

Orang dengan HIV-AIDS atau ODHA (Ilustrasi - IST)

Orang dengan HIV-AIDS atau ODHA (Ilustrasi – IST)

Penajam, helloborneo.com – Dua pria mundur perlahan saat tahu Hartini positif terinfeksi HIV, virus penyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Tapi Muhammad Nur Firmansyah berbeda.

Dua minggu setelah Hartini mengungkap statusnya sebagai orang dengan HIV dan AIDS (ODHA), pria yang akrab disapa Firman itu melamar dia.

Cinta dan pengetahuan soal ODHA membuat Firman menerima Hartini, yang saat itu seorang janda dengan satu anak berusia 15 tahun.

“Yang saya tahu soal ODHA, mereka bisa hidup normal. Saya cinta dia dan mau berkeluarga,” kata Firman.

“Sejak menikah dengan dia saya juga aktif ikut sosialisasi. Saya sekarang bekerja di LSM dan terus belajar tentang HIV-AIDS,” jelas pria berusia 34 tahun itu.

Firman telah membawa kehidupan baru bagi Hartini, yang ketika mulai berpacaran dengan Firman sudah aktif di Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI).

Pernikahan Tini sebelumnya gagal dan mewarisinya virus HIV. Ia adalah satu dari ribuan ibu rumah tangga yang tertular HIV dari suami tak setia mereka.

Tini tahu dia HIV positif setelah anak lelakinya yang berusia sembilan bulan meninggal dunia dan divonis HIV positif.

“Sebelumnya, saya tidak percaya anak saya terinfeksi karena dulu mikirnya HIV itu penyakit seks yang hanya menginfeksi pekerja seks dan pecandu narkoba sedangkan saya seorang ibu rumah tangga yang sangat percaya dengan suami saya,” ujarnya.

Waktu itu suami Tini menolak diajak menjalani tes HIV dan menganggap anaknya tertular virus tersebut di rumah sakit.

“Begitu tahu HIV positif saya mengurung diri sebulan di kamar,” kata Tini bersama suaminya saat berbincang dengan helloborneo.com sepekan lalu.

Namun kemudian dia sadar bahwa tidak ada cara lain untuk melanjutkan hidup selain berdamai dengan HIV.

“Saya cepat berdamai, bukan mencari-cari ini virus dari mana. Keterbukaan ini juga bukan untuk menolong diri sendiri tetapi bagaimana menolong orang lain,” ucap Tini.

Tini memutuskan membuka statusnya sebagai ODHA tahun 2011 silam, dan tampil di muka umum sebagai ODHA, bukan hal yang mudah.

“Tadinya hanya keluarga yang tahu. Tetapi saya tidak ingin ada lagi perempuan seperti saya,” ucap perempuan berusia 35 tahun itu.

“Orang-orang bertanya, Kamu pakai jilbab kok kena HIV? Kamu jadi pekerja seks? Kamu pakai narkoba? Kok ODHA gemuk ya’?,” tutur Tini.

Tetapi Tini bertekad menghapus pandangan yang salah di masyarakat tentang ODHA, dan menyampaikan bahwa ODHA juga punya hak yang sama sebagai warga negara Indonesia.

“Dengan saya memunculkan diri, orang bisa melihat ODHA baik-baik saja bahkan bisa meningkatkan kualitas hidup,” ujarnya.

Bahkan, Tini mengaku memiliki visi misi hidup sejak menjadi ODHA. Tadinya, ia menyebut dirinya hanya seorang ibu rumah tangga yang naif.

“Setelah jadi ODHA, saya punya visi misi hidup, dulu enggak. Walaupun hidup sebagai perempuan bukan berarti tidak bisa berbuat apa-apa. HIV bukan akhir dari segalanya,” paparnya.

Tini menikmati hidupnya meskipun harus konsisten meminum obat anti-retroviral (ARV) seumur hidup untuk menekan pertumbuhan virus.

Ia juga menjalani proses melahirkan secara normal dan tetap memberikan air susu ibu (ASI) kepada bayinya di tengah kontroversi pemberian ASI di kalangan ODHA.

“Saya bahagia, seperti bahagianya mereka yang lain. Saya berdamai dengan virus HIV, bahkan sudah bersahabat. Virus ini baik-baik saja dan di bawah kendali saya,” tutur Tini. (bp/*esa)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.