Bupati Penajam Minta Wacana Mendikbud Dikaji Ulang

Subur Priono – Humas Setkab Penajam Paser Utara

Kegiatan belajar mengajar di salah satu SMP di Kabupaten Penajam Paser Utara (Subur Priono - Humas Setkab Penajam Paser Utara)

Kegiatan belajar mengajar di salah satu SMP di Kabupaten Penajam Paser Utara (Subur Priono – Humas Setkab Penajam Paser Utara)

Penajam, helloborneo.com – Bupati Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Yusran Aspar meminta wacana yang disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhajir Effendi soal sekolah sehari penuh atau “full day school” dikaji ulang.

“Wacana itu harus dikaji secara komprehensip, agar bisa dipertimbangkan dampak positif dan negatifnya saat diterapkan,” kata Yusran Aspar di Penajam, Jumat.

Sekolah sehari penuh tersebut lanjut bupati, baik untuk perkembangan anak dalam menjalani dunia pendidikan, namun juga berdampak bagi psikologi anak karena mereka butuh untuk bermain.

Yusaran Aspar mengatakan, wacana itu juga tidak sejalan dengan kurikulum 2013 yang menerapkan metode belajar dan bermain bagi siswa di tingkat SD dan SMP.

“Jadi perlu kajian lebih dalam terkait kebijakan sekolah sehari penuh tersebut, jika akan diterapkan di daerah,” ujarnya.
Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Penajam Paser Utara Marjani menyatakan, sekolah sehari penuh tidak bisa diterapkan di seluruh daerah sekaligus karena sarana prasarana pendidikan di sejumlah daerah masih sangat terbatas.

Kendati begitu, mendukung program sekolah sehari penuh itu diterapkan untuk membangun karakter siswa.

Namun Disdikpora Kabuaten Penajam Paser Utara menurut dia, masih terkendala sarana prasarana yang belum memadai.

Beberapa kendala penerapan “full day school” itu lanjut Marjani, masih banyak sekolah di daerah setempat kekurangan ruang kelas, serta keterbatasan ruang ganti murid, toilet, kantin sekolah dan transportasi umum.

Namun, jika sekolah sehari penuh wajib diterapkan, Disdikpora Kabupaten Penajam Paser Utara akan menunjuk empat sekolah di tingkat SD dan SMP sebagai percontohan penerapan “full day school” tersebut.

Penerapan sekolah sehari penuh itu bagi siswa sekolah tingkat SD dan SMP baik negeri maupun swasta. Rencananya “full day school” memiliki komposisi 80 persen untuk pendidikan karakter dan 20 persen pengetahuan umum untuk anak SD.

Sementara pada jenjang SMP, 40 persen pengetahuan umum dan 60 persen pendidikan karakter. Namun, hingga saat ini gagasan tersebut masih menimbulkan pro kontra di masyarakat. (adv/bp)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.