Belajar Mencintai Film Indonesia Ala “Layar Tancap” Paknyang Kutai

MR Saputra – Gusti

 

 Kota Samarinda menjadi tempat pemutaran film Trylogi Nomaden "Menjemput Ibu" berikutnya. (Ist)Jogjakarta, helloborneo.com – Gerakan Garuda Menonton Film Indonesia 2016 ini mengusung film Trilogi Nomaden “Menjemput Ibu” karya sutradara Paknyang Kutai sekaligus pendiri dari komunitas RoemahKreatif Jogjakarta dan Ketua Organisasi Keprofesian KFT (Karyawan Film & Televisi) Korda D.I. Yogyakarta.

Ini adalah sebuah gerakan mandiri yang mengajak masyarakat Indonesia untuk lebih mencintai karya film produksi Indonesia. Komunitas RoemahKreatif Jogjakarta sejak 20 Mei 2016 lalu memilih Rumah Muzeum Garuda yang terletak di wilayah Sewon Bantul Yogyakarta sebagai awal dimulainya gerakan menonton ini.

Saya memilih Rumah Muzeum Garuda sebagai awal gerakan bermaksud untuk menancapkan spirit nasionalisme seperti yang tertuang di Lima Sila Garuda. “Saya ingin berbagi..” singkat Paknyang kutai mengatakan.

“Karya film itu obyektif bukan subyektif. Artinya karya film seyogyanya tetaplah milik masyarakat, bukan lagi milik si pembuatnya” lanjutnya dengan menempatkan film trilogy Nomaden “Menjemput Ibu” kedalam daftar pertama Garuda Menonton Film Indonesia ini, keinginannya untuk berbagi sudah pasti terakomodir.

Banyak sineas di negeri ini, bahkan hampir disetiap kota/kabupaten di Indonesia, mereka yang benar-benar sineas sampai yang mengaku-aku sineas bertebaran, semua berlomba-lomba membuat karya film, mulai dari film pendek sampai film-film dokumenter. Sayangnya, hampir rata-rata dari para sineas itu memilih jaringan bioskop raksasa sebagai barometer kesuksesan.

Padahal yang namanya sukses karya film itu jika sudah ditonton dan disukai oleh banyak masyarakat penontonnya. Memang income penjualan adalah salah satu penentu sukses tidaknya sebuah karya film. Tapi kenyataan yang terjadi di Indonesia, film-film Indonesia yang beredar di bioskop-bioskop raksasa itu nyatanya lebih banyak yang merugi ketimbang yang untung.

“Itu alasan kenapa di Indonesia selalu menggunakan istilah jumlah penonton untuk menunjukan laku atau tidak, berbeda dengan Amerika. Disana setiap film yang beredar diukur dari nilai income yang di dapat. Entahlah… bisa jadi istilah tersebut digunakan untuk mengkamuflase dan mengkaburkan berapa banyak PH yang tutup karena merugi,” terang  Paknyang Kutai.

Paknyang Kutai pun menambahkan pendapat dan argumennya dimana jika ada yang berpendapat bahwa dengan pemutaran layar tancap keliling ini adalah gerakan gotong royong dan tidak menjanjikan income, pendapat itu salah. Diyakininya pendapat seperti itu belum menguasai apa-apa tentang film dan marketnya. Ini salah satu cara membuktikan, apakah seseorang itu seorang sineas sejati atau berpura-pura jadi sineas.

Bahkan menurutnya saat ini banyak sineas generasi baru yang berlomba-lomba membuat karya film dengan target jaringan bioskop raksasa. “Pertanyaan saya adalah, Apakah dengan tayang di bioskop filmnya itu sudah bagus.? Sudah keren dan sudah memberi keuntungan yang baik untuk produsernya.? Jawaban saya TIDAK MENJAMIN,” tegasnya.

Gerakan Garuda Menonton Film Indonesia ini adalah media dimana saya bisa memberikan yang terbaik bagi masyarakat umum, khususnya masyarakat didaerah-daerah yang tidak ada bioskopnya. Mereka juga butuh hiburan, mereka juga butuh pengetahuan. Mereka punya hak menilai karya film yang bagaimana yang bagus menurut mereka dan yang pantas mereka tonton. Itu baru namanya karya film yang obyektif, yang jujur dan memberi manfaat.

Tidak hanya mengutamakan sisi bisnis dan ego si pembuatnya, tetapi juga memberikan ruang sebesar-besarnya untuk masyarakat dalam menilai. Selama ini masyarakat itu hanya bisa pasrah dengan tontonan-tontonan yang disajikan televisi nasional yang jujur saja, menurut saya tontonan televisi itu rata-rata kualitasnya sangat diragukan. Baik kualitas materi, kualitas moral bahkan kualitas edukasinya.

Ketika ditanya soal bagaimana RoemahKreatif selaku produsen dari film Trilogi Nomaden ini mendapatkan income dari gerakan pemutaran keliling layar tancap ini, Paknyang Kutai menjelaskan ada banyak cara dan strategi yang diterapkan oleh komunitas RoemahKreatif. Salah satunya dengan menggandeng banyak pihak, khususya sponsor. Di Indonesia begitu banyak perusahaan-perusahaan yang siap menjadi partner, karena mereka sendiri membutuhkan media untuk mempromosikan produk bahkan lembaganya. Itu yang dilakukan RoemahKreatif dalam melaksanakan gerakan ini.

“Saya kan ketua dari kordinator daerah KFT wilayah Jogja, dengan lembaga sevalid KFT, sudah barang tentu proposal dan gagasan program yang kami tawarkan kepada pihak-pihak sponsor tadi bisa langsung di acc. KFT adalah lembaga keprofesian yang berbadan hukum. Dan KFT lebih dipercaya oleh instansi negara karena didirikan dan disahkan oleh Undang-Undang Pemerintah. Saat ini KFT sendiri sudah berusia 52 tahun,” ucapnya.

Selain keuntungan materi atau income yang didapat dari gerakan ini sebagai upaya mengembalikan biaya produksi yang terbilang besar, apa saja keuntungan yang didapat dari gerakan ini.

Paknyang Kutai mengakui, bahwa dirinya sangat senang bisa berkeliling Nusantara, dekat dengan masyarakat mulai dari kota hingga kedesa-desa, mempunyai ruang diskusi yang cukup luas, melihat dan merasakan langsung bagaimana antusias masyarakat penonton terhadap karya filmnya, lebih dikenal dan lebih dekat dengan penggemarnya, bisa berbagi pengalaman, berbagi pengetahuan dan senang memberikan informasi-informasi seputar film dan hal-hal yang bersifat kreatif. Dengan Gerakan Garuda Menonton Film Indonesia ini, Paknyang Kutai memiliki misi tersendiri. Yakni ;

“Membuka apresiasi masyarakat tentang film yang baik, tentang siapa dan seperti apa watak dan karakter orang-orang film yang selama ini masih dianggap sebagian masyarakat adalah orang-orang hebat. Padahal nyatanya, untuk Indonesia, orang film itu tak ada bedanya dengan masyarakat biasa di desa-desa. Bekerja keras, berkeringat dan berupaya mengais rejeki untuk makan, makanya kemudian muncullah orang-orang jahat yang berkedok menggunakan profesi dibidang film. Mereka bergerilya kedaerah-daerah yang dianggap banyak uangnya, mencari bakat-bakat tersembunyi untuk di orbitkan padahal bekalnya hanya satu. Siapa yang punya uang, maka dia akan bilang KAMU BERBAKAT ini fakta yang terjadi disekitar kita..Ironis dan Dilematis,” jelasnya.

“Bersaing.. saya mau bersaing dengan film-film yang ada dibioskop itu dengan film saya yang diusung Garuda Menonton Film Indonesia ini. Berapa banyak penonton yang mereka dapatkan dan berapa banyak penonton film saya dalam sekali putar. Penonton film di bioskop raksasa itu kalaupun ramai atau penuh maksimal 500 penonton, sementara penonton film saya satu lapangan dalam sekali putar. Berapa banyak income mereka dari penjualan tiket semalam yang harga tiketnya maksimal 50 ribu rupiah itu dengan royalti film saya yang dibayarkan oleh penyelenggara dan sponsor,” ungkapnya.

“Dan film Indonesia yang tayang di bioskop rata-rata punya waktu 3 hari tayang, bahkan banyak sekali yang hanya tayang satu kali kemudian esoknya layar itu sudah turun. Sedangkan Trilogi Nomaden lewat Garuda Menonton Film Indonesia tidak akan pernah turun selama belum mencapai target keliling Nusantara dari Sabang sampai Merauke,” sambungnya. (mrs/rol)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.