Beginilah Beberapa Tantangan Pendidikan di Sulawesi Selatan

Gusti

 

Dari kiri ke kanan Prof. Dr. Heri Tahir SH, MH Pakar Hukum UNM, Syaharuddin Alrif, Wakil Ketua Komis E DPRD Sulsel, Prof. Dr. Arismunandar, Mantan Rektor UNM dan Mustajib Communication Sp. (Ist)

Makassar, hellobornero.com – Banyak tantangan pendidikan yang dihadapi oleh Sulawesi Selatan (Sulsel) dalam mempersiapkan kualitas sumber daya manusia ke depan. Tantangan terbesar masih pada kualitas guru. Demikian hasil rangkuman dari Diskusi Akhir Tahun “Pendidikan di Sulawesi Selatan, Asa & Tantangan” yang diselenggarakan oleh Jurnalis Pendidikan Sulsel di Warunk Upnormal, Makassar, Sabtu, (17/12).

Mantan Rektor Universitas Negeri Makassar, Prof. Dr. Arismunandar memperlihatkan rendahnya kualitas guru ini  berdasarkan nilai Uji Kompentensi Guru tahun 2015, yaitu rata-rata guru Sulsel nilainya hanya 52,55  dari angka maksimal 100. “Masih banyak guru yang mengajar di sekolah hanya tamatan SPG, yang berkualifikasi S1 juga kadang mengajar pada bidang yang lain yang tidak sesuai dengan kompetensinya, sehingga mempengaruhi kualitas siswa, “ ujarnya.

“Lebih parah lagi ada di TK. Padahal  kecerdasan  terpupuk pada usia  0 – 6 tahun. Banyak guru TK sebelumnya tidak menjalani pendidikan guru khusus TK, sehingga tidak memperhatikan perkembangan psikologi anak ketika mengajar,” ujarnya lagi.

Untuk mengatasi rendahnya kualitas guru, Prof Arismunandar mengusulkan diadakannya reformasi pendidikan terutama di LPTK dengan mengadakan pendidikan guru berasrama.

Diharapkan dengan pendidikan model tersebut, guru benar-benar mendalami spesialitas kompentensinya. “Karena berdasarkan hasil riset, 30 persen kualitas pendidikan anak dipengaruhi guru,” ujarnya.

Menurut Prof Heri Tahir, Pakar Hukum dan Guru Besar Universitas Makassar, maraknya kejahatan-kejahatan seperti geng motor di Sulsel tak lepas dari mutu pendidikan. “Pendidikan ke depan harus menciptakan siswa yang berkarakter dan bisa memecahkan masalah kehidupannya. Guru bukan cuma mengajar tapi benar benar ikut mendidik,” ujarnya.

Sementara itu, wakil ketua komisi Pendidikan DPRD Sulsel Syaharuddin Alrif, lebih menyoroti tentang masalah guru honorer. “Saya bertanya kepada 300 ketua OSIS SMA Sesulsel dan ketika saya tanya, mana yang lebih banyak mengajar? Guru PNSnya atau honorernya, Mereka menjawab lebih rajin guru honorernya. Ini menjadi masalah tersendiri di Sulsel,” ujarnya.

Menurutnya  Sulsel akan meluncurkan E-Panrita untuk mengawasi tingkat kerajinan para guru mengajar di sekolah sehingga guru PNS akan lebih mengajar dan aktif di sekolah.

Menurut Mustajib, Communication Specialist USAID PRIORITAS, salah satu masalah terbesar Sulawesi Selatan adalah tingkat literasi yang masih rendah. “Kalau kita lihat di bis-bis, di mall-mall, di taman-taman, belum banyak orang-orang yang duduk membaca buku. Tidak sama dengan negara-negara maju. Padahal tingkat literasi sangat menentukan kemajuan bangsa.” Ujarnya.

Dia berharap para jurnalis, selain mengadvokasi masalah-masalah mutu pendidikan, juga masalah literasi. “Kalau literasi sudah meningkat dengan baik, masyarakat suka membaca, maka mereka akan lebih kritis dan lebih mandiri dalam membangun diri mereka sendiri. Petani akan banyak membaca buku untuk meningkatkan produktifitasnya, demikian juga tukang dan lainnya. Bangsa ini akan lebih cepat majunya, “ ujarnya.

Dialog akhir tahun ini diselenggarakan oleh JUPE Sulsel, sebuah organisasi wartawan yang ke depan akan banyak begerak untuk mengadvokasi peningkatan mutu pendidikan di Sulsel. “Saya berpesan para wartawan terus mengawal program pendidikan di Sulsel, dan melaporkan kepada kami kalau ditemui kejangggalan-kejanggalan dalam bidang pendidikan,” ujar Syaharuddin Alrif, Wakil Ketua Komisi E Pendidikan DPRD Sulsel menutup dialog. (rol)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.