Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok Picu Inflasi kaltim

Bagus Purwa

Pasar.

Samarinda, helloborneo.com – Kenaikan harga sejumlah bahan kebutuhan pokok memicu terjadinya inflasi di Provinsi Kalimantan Timur sebesar 1,02 persen pada Desember 2017, sehingga secara keseluruhan inflasi tahun ke tahun sebesar 3,15 persen.

“Inflasi Kaltim sebesar 1,02 persen ini berasal dari dua kota patokan indeks harga konsumen (IHK), yakni Samarinda mengalami inflasi 0,73 persen dan Balikpapan 1,41 persen,” jelas Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Kaltim Muhammad Habibullah, ketika dihubungi helloborneo.com di Samarinda, Selasa.

Ia menjelaskan, inflasi di Kaltim dipengaruhi oleh peningkatan indeks harga pada kelompok bahan makanan sebesar 2,78 persen, kelompok transportasi dan komunikasi 2,14 persen, disusul kelompok sandang dengan kenaikan 0,51 persen.

Kelompok lain yang memberikan andil inflasi adalah makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,32 persen, kesehatan 0,16 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,08 persen, serta kemudian kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,07 persen.

Pada Desember 2017, lanjut Muhammad Habibullah, dari 82 kota di Indonesia yang menjadi patokan IHK semuanya mengalami inflasi, dengan angka tertinggi tercatat di Jayapura (Papua) mencapai 2,28 persen dan terendah di Sorong (Papua Barat) sebesar 0,18 persen.

Sedangkan di Pulau Kalimantan, inflasi tertinggi terjadi di Tanjung Selor yang mencapai 1,58 persen, diikuti Tarakan 0,87 persen, Singkawang 0,86 persen, Banjarmasin 0,75 persen, Palangkaraya 0,67 persen, Sampit 0,61 persen, dan Pontianak 0,50 persen.

Ia menyatakan, sejumlah komoditas yang mempengaruhi laju inflasi Kaltim pada Desember 2017, meliputi kelompok bahan makanan antara lain akibat kenaikan harga pada daging dan hasilnya yang berkontribusi 9,08 persen, ikan segar 5,55 persen, telur dan susu 2,04 persen.

Pada kelompok makanan jadi, rokok dan tembakau dipengaruhi oleh makanan jadi dengan kenaikan 0,29 persen, tembakau serta minuman beralkohol berinflasi 0,94 persen, sementara minuman tanpa alkohol terjadi penurunan harga 0,42 persen.

Untuk kelompok perumahan dipengaruhi oleh biaya tempat tinggal dengan inflasi 0,11 persen, bahan bakar, penerangan dan air 0,10 persen, perlengkapan rumah tangga 0,17 persen, dan biaya penyelenggaraan rumah tangga berdeflasi 0,23 persen.

“Sedangkan untuk kelompok sandang dipengaruhi oleh pakaian laki-laki dengan kenaikan 1,49 persen, pakaian wanita naik 0,97 persen, dan untuk pakaian anak-anak turun 0,18 persen,” tambah Muhammad Habibullah. (bp/hb)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.