Alih Fungsi Lahan Pertanian di Penajam Sulit Dibendung

Ari B

Sawah di Kecamatan Babulu.

Penajam, helloborneo.com – Alih fungsi lahan pertanian menjadi perkebunan kepala sawit di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, sulit dibendung atau dihentikan kendati telah diterbitkan peraturan daerah terkait larangan alih fungsi lahan pertanian.

Camat Babulu Margonno saat ditemui helloborneo.com di Penajam, Kamis, mengatakan, kendati telah diberikan sosialisasi dan imbuan, masyarakat petani di Kecamatan Babulu tetap melakukan alih fungsi lahan pertanian menjadi perkebunan kelapa sawit.

Peraturan daerah menyangkut larangan alih fungsi lahan pertanian yang diterbitkan Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara seakan hanya sebagai hiasan, sebab sampai saat ini belum mampu menghentikan maraknya alih fungsi lahan persawahan menjadi perkebunan kelapa sawit.

Ratusan hektare lahan pertanian di wilayah Kecamatan Babulu dikabarkan hingga kini telah beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit karena irigasi untuk pengairan di daerah itu belum memadai.

Informasi yang diperoleh menyebutkan, di Desa Sri Raharja dan Sumber Sari Kecamatan Babulu yang memiliki areal persawahan mencapai ribuan hektare, sampai saat ini sebagian lahan pertanian di dua desa tersebut telah menjadi perkebunan kepala sawit.

Sedangkan di Desa Sebakung Jaya Kecamatan Babulu yang memliki luasan lahan pertanian sekitar 878 hektare, sekisar 57 hektare juga telah beralih fungsi menjadi perkebunan sawit.

“Lahan pertanian di wilayah Kecamatan Babulu terus menyusut sebagian besar akibat konversi atau beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit,” ujar Margono.

Alih fungsi lahan persawahan tersebut menurut dia, karena desakan ekonomi keluarga yang harus dipenuhi masyarakat petani, kerena jika menanam padi membutuhkan banyak air.

Sementara menanam kelapa sawit lanjut Margono, lebih mudah perawatannya dan tahan terhadap kondisi pada saat musim kemarau.

“Mayoritas petani melakukan alih fungsi lahan pertanian itu, beralasan kesulitan mendapatkan air untuk pengairan sawah mereka,” tambahnya.

Selama ini sekitar 8.000 hektare areal persawahan potensial di wilayah Kecamatan Babulu kesulitan mendapatkan air untuk pengairan karena minimnya sistem irigasi, para petani mengandalkan sistem pengairan tadah hujan. (bp/hb)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.