Dinkes Penajam: “Stunting” Bukan Hanya Karena Faktor Kemiskinan

Kantor Dinas Kesehatan PPU.

Bagus Purwa

Penajam, helloborneo.com – Kondisi “stunting” atau anak tumbuh kerdil akibat kurang asupan gizi terjadi bukan hanya karena faktor kemiskinan, namun bisa juga karena salah pola asuh anak dari orang tua, kata pejabat Dinas Kesehatan atau Dinkes Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.

“Anak tumbuh kerdil bukan hanya disebabkan faktor kemiskinan, anak dari keluarga mampu juga ada yang tumbuh kerdil,” ujar Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kabupaten Penajam Paser Utara, Syarifah Asmawati ketika ditemui helloborneo.com, Rabu.

Beberapa kasus “stunting” yang berhasil diidentifikasi, katanya, disebabkan karena salah pola asuh orang tua, makanan yang harusnya dikonsumsi orang dewasa diberikan kepada anak.

Karena itu, lanjut ia, Dinkes terus memberikan pemahaman kepada orang tua maupun ibu hamil untuk menjaga pola asuh anak, serta menjaga kesehatan lingkungan.

Anak-anak, termasuk bayi yang masih dalam kandungan, menurut Syarifah Asmawati, harus diberikan asupan gizi atau diberikan makanan yang bergizi, sehingga anak-anak dapat tumbuh normal.

“Kami juga terus menyosialisasikan sanitasi berbasis lingkungan, tidak buang air besar di sembarang tempat karena akan berpengaruh terhadap lingkungan,” ucapnya.

Pihaknya juga telah melakukan pemberian makanan tambahan bergizi kepada anak, serta pemeriksaan terhadap ibu hamil.

“Upaya itu dilakukan untuk pencegahan anak tumbuh kerdil dan dapat menurunkan kasus ‘stunting’ di wilayah Penajam Paser Utara,” ujarnya.

Mengacu dari data terakhir, kata dia, terdapat sedikitnya 471 anak yang tersebar di wilayah Penajam Paser Utara mengalami “stunting” atau tumbuh kerdil akibat kurang gizi.

Dari 54 desa/kelurahan di Kabupaten Penajam Paser Utara terdapat 10 desa/kelurahan menjadi perhatian serius menyangkut kekerdilan pada anak atau “stunting”.

“Stunting” atau gangguan pertumbuhan yang ditandai dengan kondisi pendek/cebol adalah permasalahan kesehatan yang juga bisa disebabkan oleh faktor genetika dan kesehatan lingkungan, demikian Syarifah Asmawati. (bp/hb)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.