Refleksi Kolektif Ulang Tahun Kota Penajam Paser Utara. (II)

Fitriady, Penggerak Literasi Gembel (gemar Belajar)

Dokumentasi Perpustakaan Keliling di Desa Bangun Mulya Kecamatan Waru.

Penajam, helloborneo.com – Adanya perbedaan perspektif dalam merealisasikan atau mewujudkan impian kolektif antara pemerintah dan masyarakat tersebutm seharusnya menjadi bahan renungan bersama untuk merumuskan sebuah grand desain atau konsep perencanaan kota atau kabupaten.

Kota atau kabupaten dibangun melalui grand desain yang pastinya untuk menyejahterakan masyarakat, konsep perencanaan kota atau kabupaten tersebut harus terekam dalam kebijakan daerah yang berpihak kepada publik, yang dikenal dengan kebijakan publik.

Tentunya grand desain kota atau kabupaten itu untuk meretas impian kolektif menjadi nyata dirasakan, sehingga konsep perencanaan pun harus memuat arah pembangunan berwawasan ke depan semakin lebih baik.

Begitu pula dengan Kabupaten Penajam Paser Utara pada usia 18 tahun tentunya sudah banyak ragam perjalanan didalamnya, berbagai sketsa atau gambaran silih berganti sejak dimekarkan.

Tentunya melalui proses perjuangan untuk menjadi daerah otonomi baru sampai disetujui menjadi Kabupaten Penajam Paser Utara pada 2002, siapa yang berjuang ada catatannya bagaimana proses kabupaten Penajam Paser Utara menjadi daerah otonomi baru pada tahun itu.

Berangkat dari rasa gelisah, maka terlahir pemikiran yang sama bahwa Kabupaten Penajam Paser Utara harus menjadi kabupaten dan mampu mengatur rumah tangganya sendiri, dan berpisah dari Kabupaten Paser.

Tetapi sangat disayangkan sejarah tersebut tidak tercatat dan dibukukan serta dimasukkan dalam kurikulum lokal, sehingga langka sekali yang mengetahui sejarah Kabupaten Penajam Paser Utara terbentuk dan siapa pelaku sejarah pemekaran kabupaten itu.

Generasi muda seharusnya mengucapkan syukur dan berterima kasih kepada para pejuang pembentukan Kabupaten Penajam Paser Utara.

Perubahan terus tampak dan mengiringi poses perkembangan Kabupaten Penajam Paser Utara sepanjang perjalanan hingga saat ini, diperlihatkan dengan adanya interaksi manusia di wilayah empat kecamatan dengan luas 3.333,3 kilometer persegi tersebut.

Sebuah pertanyaan muncul, apakah interaksi itu telah memenuhi impian kolektif atau hanya merupakan impian invidual semata?. Minimal pada masa kepemimpinan tertentu interaksi tersebut menjadi awal penilaian bersama menyangkut kebijakan publik.

Apakah kebijakan publik yang dituangkan dalam sejumlah perundangan atau peraturan daerah berhasil meningktkan taraf hidup bagi 160,9 ribu jiwa atau 4,32 persen dari total penduduk Provinsi Kalimantan Timur itu?.

Jika kebijakan publik dalam perundangan atau peraturan daerah tersebut gagal atau bahkan tidak menyentuh hajat hidup rakyat, maka pada momentun ulang tahun harus ada upaya reflektif Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara.

Relektif yang harus dilakukan Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara tersebut untuk merumuskan ulang, apa dan bagaimana metode yang tepat bagi pemenuhan kesejahteraan publik tersebut.

Interaksi manusia di daerah bernama Kabupaten Penajam Paser Utara yang dihuni sekitar 84 ribu laki-laki dan 76,9 perempuan tersebut boleh disebut telah berpihak kepada kebijakan publik. (bp/hb). Bersambung….




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.