Petani Penajam Butuh Bendung Talake Sebagai Sumber Air Irigasi Sawah

Ari B

Sungai di Kecamatan Babulu Kabupaten PPU.

Penajam, helloborneo.com – Petani Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, membutuhkan keberadaan bendung gerak Sungai Talake Kabupaten Paser yang dapat menjadi sumber air irigasi lahan persawahan khususnya di wilayah Kecamatan Babulu.

Kepala Seksi Pengelolaan Lahan dan Irigasi Dinas Pertanian Kabupaten Penajam Paser Utara, Agung Widodo saat ditemui helloborneo.com, Selasa menyatakan bendung Sungai Talake bisa meningkatkan hasil panen petani di wilayah Babulu.

Ia berharap pembangunan bendung gerak Sungai Talake Kabupaten Paser oleh Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara tersebut dapat segera terwujud.

Pembangunan bendung Sungai Talake Kabupaten Penajam Paser itu sudah direncanakan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur sejak 2000, namun sampai saat ini belum terealisasi.

“Kami berharap solusi pengairan lahan persawahan itu segera terwujud, karena selama ini pengairan sawah petani Babulu bergantung pada tadah hujan,” ujar Agung Widodo.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur diharapkan dapat melakukan komunikasi dengan pemerintah pusat untuk segera mewujudkan pembangunan bendung Sungai Talake tersebut.

Bendung Sungai Talake Kabupaten Paser itu jelas Agung Widodo, dapat menekan kegiatan alih fungsi lahan persawahan atau pertanian tanaman pangan di wilayah Kecamatan Babulu.

“Kalau bendung Sungai Talake terwujud tidak akan ada petani yang mengalihfungsikan lahan sawahnya, itu yang dikatakan petani di Babulu,” ungkapnya.

Potensi pertanian di Kecamatan Babulu hingga kini belum bisa dioptimalkan, karena terkendala sumber air untuk pengairan ribuan hektare lahan persawahan di wilayah itu.

Luas lahan produktif tanam padi di wilayah Kecamatan Babulu lebih kurang 6.000 hektere, namun dalam pemanfaatannya baru berkisar 90 persen atau sekitar 5.000 hektare akibat terkendala pasokan air irigasi.

Bendung gerak Sungai Talake berpengaruh besar untuk peningkatan hasil panen petani di Kecamatan Babulu, sebab selama ini lahan persawahan menggunakan sistem tadah hujan sehingga hasil panen tidak maksimal. (bp/hb)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.