Remaja vs Pendidikan, Gali Potensi, Tekuni Teknologi

Tun MZ

Solo, helloborneo.com – Lima belas mahasiswa asal Universitas Sebelas Maret (UNS) di Solo yang terbagi dalam tiga kelompok pekan lalu tampak sibuk mengerjakan sesuatu di area danau kampus tersebut. Mereka mengutak-atik tiga prototipe kapal nirawak buah karya mereka, di antaranya terdapat kapal cepat dan kapal selam yang dilengkapi kamera yang digunakan untuk drone di air karya rakitan mereka.

Juru bicara tim Bengawan Unmanned Vehicle UNS, Tri Rahmaji, mengatakan drone karya mahasiswa UNS Solo itu adalah drone air hingga drone udara. Karya mahasiswa ini, tambahnya, sudah meraih prestasi di berbagai kompetisi robotik tingkat nasional maupun internasional.

“Karya kami ini ada 3 prototipe kapal tanpa awak. Desainnya kami sesuaikan dengan miniatur kapal sebenarnya. Kami melihat potensi kapal tanpa awak saat ini atau di masa depan sangat dibutuhkan dalam tim SAR atau menembus lokasi yang sulit dijangkau manusia,” jelas Tri.

Tak hanya mahasiswa, teknologi masa kini seperti drone dan animasi tiga dimensi itu juga digandrungi para pelajar. Ketika ditemui VOA, Al Fikri Rahman, seorang pelajar kelas 12 dari SMK Raden Umar Said Kudus, Jawa Tengah, sedang merancang desain gambar animasi tiga dimensi di sebuah layar komputer. Fikri, yang awalnya memiliki hobi menggambar dengan pensil, kini beralih menggunakan gambar animasi bergerak di komputer.

“Sejak kecil suka menggambar. Sewaktu ada sekolah khusus animasi ini saya tertarik. Selama tiga tahun belajar animasi di sekolah pakai komputer. Asyik dan seru. Karya animasi lima menit butuh waktu 1-2 tahun memproduksinya dari konsep, desain, sampai eksekusi karya,” papar Fikri.

SMK Raden Umar Said Kudus berhasil mengukir prestasi dengan meraih berbagai penghargaan, baik di tingkat nasional maupun internasional, lewat film animasi ‘Unstring Your Heart’. Film animasi itu menerima penghargaan dari HelloFest 2019, The 20th Kansas International Film Festival 2020, Canberra Short Film Festival 2019, dan Pune Short Film Festival 2019.

Berbagai karya kedua lembaga pendidikan itu, UNS Solo maupun SMK Raden Umar Said itu dilihat langsung Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi, Nadiem Makarim ketika melawat ke Solo pada pertengahan Oktober ini.

Kampus UNS Solo maupun SMK Raden Umar Said Kudus adalah sebagian instansi pendidikan yang mendukung potensi siswa atau mahasiswa dalam mengembangkan karya teknologi.

Pendidikan Adaptif Teknologi

Perkembangan teknologi yang semakin cepat membuat dunia pendidikan berbenah diri. Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia MRPTNI, Profesor Jamal Wiwoho, mendukung penuh kreatifitas mahasiswa dalam pengembangan riset teknologi. Menurut Jamal, yang juga menjabat Rektor UNS Solo ini, kompetisi teknologi karya mahasiswa dari berbagai kampus akan mempercepat kemajuan teknologi dalam negeri.

“Mahasiswa bisa berlomba dan mendapat prestasi riset teknologi. Harus kita support. Bulan depan UNS Solo menjadi tuan rumah kompetisi robot karya berbagai kampus di dalam negeri. Ini contohnya drone karya mahasiswa UNS yang akan ikut kompetisi. Ada drone di udara dan air,” jelas Jamal.

Para remaja, termasuk pelajar dan mahasiswa di Indonesia yang gemar mempelajari teknologi baru juga mendapat respon positif pemerintah. Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Nadiem Makarim mengatakan sumber daya manusia menjadi prioritas dalam pengembangan pendidikan teknologi yang kini menjadi trend dunia.

“Secara otomatis, semua skill digital itu arena atau potensi penyerapan selalu multinasional. Jadi tidak mengenal geografi. Orang luar negeri bisa meminta talenta coding atau animasi dari Indonesia. Bisa animator atau content creator.”

“Mereka bisa kerja untuk siapapun di dunia. Itulah enaknya kerja dunia teknologi digital. Itu andalan sektor digital, kita bisa kerja untuk siapapun dan dimanapun. Salah satu cara tercepat mengembangkan pendidikan dunia digital ya lewat anak-anak yang punya passion di dunia teknologi digital ini,” ungkap Nadiem.

Guna mengakali kekurangan guru dan dosen praktisi teknologi, serta anggaran, sekolah atau kampus kini mengandalkan Dana Sosial Kemasyarakatan CSR dari berbagai lembaga.

Enggan Sekadar Menjadi Konsumen

Fikri, pelajar SMK yang menggeluti bidang animasi ini hanya memiliki satu keinginan di masa depan, yaitu menjadi animator kelas dunia. Fikri berharap animasi karya dalam negeri bisa menjadi bukti remaja masa kini membela bangsa dengan cara berbeda.

“Membuat karya animasi itu tidak mudah dan ini menjadi tren masa depan. Semoga animator Indonesia semakin banyak yang dikenal karyanya mendunia”, pungkas Fikri.

Hampir senada, Tri Rahmaji bersama tim robotik nirawaknya dari UNS Solo itu berharap karya teknologinya ini bisa dipakai di Indonesia maupun di berbagai negara dunia.

“Kapal nirawak karya kami semoga bisa menjadi inspirasi dan bermanfaat bagi sesama meski masih dalam bentuk prototipe”, ungkap Tri. (voa/tan)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.