Ketakutan, Kemerosotan Ekonomi Afghanistan Picu Penutupan Restoran dan Kafe Perempuan

Tun MZ

Afghanistan, helloborneo.com – Nikee Tabasum, 23 tahun, yang mengelola sebuah kafe di barat kota, harus menutup kafenya pada 16 Agustus, sewaktu pejuang Taliban mengambil alih ibu kota Afganistan.

Tabasum masih ingat akan kecemasannya ketika mendengar kabar kelompok pejuang itu memasuki kota.

Dia mengatakan, meskipun ia tidak pernah diperingatkan atau diancam oleh Taliban untuk menutup kafenya, ketakutan menjadi sasaran dan kehilangan pelanggannya yang sebagian besar mahasiswi, memaksanya untuk menutup kafenya.

“Kami diliputi rasa cemas dan gelisah. Kami sangat takut dan para pelanggan yang semuanya mahasiswi juga tidak mau datang lagi ke kafe kami ini … itulah sebabnya saya menutup kafe ini,” katanya.

Tabasum, yang mempunyai tiga saudara perempuan dan seorang adik laki-laki berusia enam tahun, adalah anak sulung di kaluarganya dan biasa membantu ayahnya dalam memenuhi kebutuhan keuangan.

Ia tamat dari SMA di provinsi Ghazni, lalu hijrah ke Kabul lima tahun lalu.

Ia meminjam uang satu juta Afghanis atau sekitar $10.000 dari keluarga dan teman-temannya, untuk membuka rumah makan. Keuntungan yang diperolehnya selama lima tahun membuka kafe itu ia gunakan untuk membayar lunas utang-utangnya.

Kafé kecil yang biasanya menyajikan makanan kecil tradisional Afganistan itu, memberi lapangan kerja bagi delapan perempuan yang bertanggungjawab untuk menghidupi keluarga mereka.

Sambil menata buku dan majalah yang berdebu, Tabasum mengatakan ia biasa mendapat untung hingga 20.000 Afghanis atau $224 pada hari-hari sibuk, tetapi ditutupnya kafe itu membuat Tabasum dan delapan pekerja perempuan lainnya kehilangan satu-satunya penghasilan mereka.

“Sebelum Taliban berkuasa, bisnis kafe saya bagus, penghasilan saya baik. Banyak hari yang saya biasa mendapat 224 dolar pada hari yang sibuk, tetapi dalam bulan dan 15 hari setelah Taliban kembali berkuasa, kafe kami telah tutup,” katanya.

Kini, kaum perempuan dilarang bekerja di depan umum, semua perempuan yang dulu bekerja di restoran, sekarang menganggur.

“Sebelumnya kami biasa menghidupi keluarga kami dengan bekerja di sini, dan semua gadis yang dulu bekerja dengan saya adalah pencari nafkah bagi keluarga mereka, sayangnya (kafe) tutup, kami dalam kondisi yang sangat buruk, dan kami tidak tidak memiliki sumber pendapatan lain,” kata Tabasum.

Madina Ghulami pernah bekerja sebagai manajer di Tabasum Café. Dia sekarang menganggur dan, seperti banyak wanita Afghanistan lainnya, ia menghabiskan sepanjang harinya di rumah. Ia kehilangan ayahnya dalam kecelakaan mobil dan sejak itu bertanggung jawab memberi makan dua adik laki-laki dan ibunya. Sejak kehilangan pekerjaannya, ia tidak mampu membayar tagihan dan bersedia bekerja di mana pun untuk dapat memenuhi kebutuhan keluarganya.

“Sayangnya, situasi ekonomi sudah buruk dan semakin memburuk di Afghanistan. Kami, semua perempuan ingin bekerja dalam kondisi apapun, namun sayangnya tidak ada kesempatan kerja bagi kami,” kata Ghulami.

Taliban meminta perempuan yang bekerja di sebagian besar kantor pemerintah, untuk tinggal di rumah, meskipun mereka mengumumkan untuk menghormati hak perempuan untuk diizinkan bekerja dan mendapat pendidikan.

Pada awal September, Taliban menutup kementerian Urusan Wanita, menggantikannya dengan kementerian untuk “penyebar luasan kebajikan dan pencegahan kejahatan”, yang bertugas menegakkan hukum-hukum Islam. (voa/tan)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.