Harga Bahan Pangan Melonjak, Bank Makanan di AS Hadapi Permintaan Bantuan

Tun MZ

Washington, helloborneo.com – Bank-bank makanan AS, yang menghadapi kenaikan permintaan dari keluarga yang tersisihkan karena pandemi, kini menghadapi tantangan baru, yakni melonjaknya harga pangan dan masalah rantai pasokan.

Biaya yang lebih tinggi dan pasokan yang terbatas membuat sebagian keluarga mungkin mendapat jatah yang lebih sedikit atau pengganti bahan makanan pokok seperti selai kacang, yang harganya hampir dua kali lipat dari harga setahun silam.

Sementara liburan akhir tahun menjelang, sebagian bank makanan khawatir mereka tidak memiliki cukup banyak bahan isian kalkun dan saus kranberi untuk Hari Bersyukur (Thanksgiving) dan Natal.

Katie Fitzgerald, COO Feeding America, LSM yang mengkoordinasikan kegiatan lebih dari 200 bank makanan di Amerika, mengatakan,”Kenaikan harga-harga makanan merupakan tantangan nyata untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang berusaha keras menyediakan makanan di rumah mereka di berbagai penjuru negara ini.”

Bank-bank makanan yang diperluas untuk memenuhi permintaan yang belum pernah sebesar ini semasa pandemi tidak akan mampu menyediakan makanan yang harganya dua hingga tiga kali lipat daripada sebelumnya, ujar Fitzgerald.

Gangguan rantai pasokan, persediaan yang lebih sedikit dan kurangnya tenaga kerja telah menyebabkan kenaikan biaya bagi badan-badan amal yang menjadi andalan pemenuhan nutrisi jutaan orang di AS. Makanan sumbangan lebih mahal untuk dikirim karena biaya transportasi meningkat, dan hambatan di pabrik serta pelabuhan menimbulkan kesulitan mendapatkan berbagai jenis barang.

Jika bank makanan harus beralih ke tuna kalengan yang lebih kecil atau memberi bahan makanan pengganti untuk menghemat dana mereka, kata Fitzgerald, ini memperburuk situasi keluarga yang sudah terguncang oleh situasi tidak menentu ini.

Di kawasan San Fransisco Bay Area di mana harga-harga sangat mahal, Bank Makanan Komunitas County Alameda di Oakland mengeluarkan tambahan 60 ribu dolar per bulan untuk makanan. Ditambah dengan peningkatan permintaan, bank makanan itu kini mengeluarkan 1 juta dolar per bulan untuk mendistribusikan 2.000 ton bahan makanan, kata Michael Altfest, direktur urusan kerja sama masyarakat di bank makanan itu.

Sebelum pandemi, bank tersebut membelanjakan seperempat dana itu untuk pengadaan 1.200 ton bahan makanan.

Harga kacang polong dan buah persik kalengan naik hampir sembilan persen, kata Altfest; harga tuna kalengan dan ikan tilapia beku naik lebih dari enam persen, dan satu wadah ayam beku seberat lima pon untuk hidangan perayaan liburan akhir tahun naik 13 persen. Sementara itu harga oatmeal kering telah naik 17 persen.

Pada pertengahan pekan ini, ratusan orang antre di luar sebuah gereja di Oakland Timur untuk mendapatkan pembagian makanan mingguan. Shiloh Mercy House memberi makan sekitar 300 keluarga pada hari-hari itu, jauh lebih sedikit daripada 1.100 keluarga yang pernah diberi bantuan makanan pada puncak pandemi, kata Jason Bautista, manajer kegiatan amalnya. Tetapi ia masih melihat ada orang-orang baru setiap pekan.

Ia mengatakan, “Klien kami memberitahu kami bahwa kenaikan harga makanan merupakan sesuatu yang menjadi penyebab stres terbesar bagi mereka. Ini sesuatu yang tidak mampu mereka jangkau,” jelas Jason Bautista.

Keluarga-keluarga juga dapat menggunakan pasar komunitas yang dibuka Shiloh pada Mei lalu. Lemari-lemari pendingin penuh berisi wadah susu dan telur, sementara roti hamburger dan baget menumpuk di rak.

Ita Espinoza, seorang koki restoran yang mengambil bahan makanan di pasar komunitas itu mengatakan, ia datang ke sana karena memerlukan makanan untuk keluarganya. Karena harga makanan sangat mahal, uangnya tidak cukup untuk membeli makanan.

Bryan Nichols, wakil direktur penjualan di Transnational Foods Inc., yang mengirim makanan ke lebih dari 100 bank makanan yang berasosiasi dengan Feeding America, mengatakan, makanan kalengan dari Asia seperti koktail buah, buah pir dan jeruk mandarin, tertahan di luar negeri karena kurangnya ruang tempat peti kemas.

Masalah pasokan tampaknya mulai membaik dan harga-harga menjadi lebih stabil. Tetapi ia memperkirakan biaya akan tetap tinggi karena begitu banyak orang yang keluar dari bisnis pengapalan makanan selama pandemi.

Bank Makanan Komunitas County Alameda menyatakan siap menghadapi Thanksgiving, dengan wadah-wadah berisikan kranberi kalengan dan berpeti-peti kentang tumbuk ada di dalam gudangnya yang diperluas.

Direktur penyediaan makanan Wilken Louie memesan delapan truk berisikan daging ayam beku seberat 5 pon – total lebih dari 60 ribu ekor ayam – untuk diberikan secara gratis serta setengah ekor kalkun yang dijual tanpa mengambil untung.

Martha Hasal mensyukuri hal tersebut. Ia mengatakan, “Ini akan menjadi Hari Bersyukur yang mahal. Harga kalkun tidak akan seperti sebelumnya, dan mereka tidak membagikan kalkun. Jadi puji Tuhan mereka membagikan ayam. Kami akan menyediakan itu untuk keluarga kami.” (voa/tan)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.