Indonesia-Selandia Baru Kembangkan Kerja Sama Bidang Energi Terbarukan

Tun MZ

Seorang warga setempat mengendarai sepeda motor di jalan dekat unit pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) milik PT. Geo Dipa Energi (Persero) di kawasan pegunungan Dieng di Banjarnegara, Jawa Tengah, 15 November 2020. (Foto: REUTERS/Willy Kurniawan)
Seorang warga setempat mengendarai sepeda motor di jalan dekat unit pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) milik PT. Geo Dipa Energi (Persero) di kawasan pegunungan Dieng di Banjarnegara, Jawa Tengah, 15 November 2020. (Foto: REUTERS/Willy Kurniawan)

Jakarta, helloborneo.com – Indonesia dan Selandia Baru terus mengembangkan kerja sama bilateral. Salah satu kerja sama yang terus dikembangkan itu adalah sektor energi terbarukan, khususnya di bidang geothermal atau panas bumi.

Kemitraan kedua negara di bidang energi telah ditunjukan antara lain melalui pembangunan Flores Geothermal Island di Nusa Tenggara Timur dan pembangunan jaringan pipa di Maluku dalam kerangka the New Zealand-Maluku Access to Renewable Energy Support.

Hal tersebut diungkapkan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi usai memimpin pertemuan komisi bersama Indonesia-Selandia Baru bersama Menteri Luar Negeri Selandia Baru Nanaia Mahuta, Senin (15/11) di Jakarta.

“Selandia Baru dapat menjadi mitra di bidang transisi energi. Salah satu kerja sama yang dapat terus dikembangkan adalah di bidang geothermal,” ungkap Retno

Ia menjelaskan Selandia Baru merupakan mitra penting Indonesia di kawasan Pasifik. Indonesia dan Selandia Baru telah memiliki kemitraan komprehensif sejak 2018.

Kemitraan tersebut, lanjut Retno, telah menjadi fondasi kuat dalam upaya meningkat kerja sama bilateral termasuk di masa pandemi COVID-19. Dia menekankan kemitraan strategis antara Indonesia dan Selandia Baru didasarkan pada prinsip saling menguntungkan, saling menghormati dan menghormati kedaulatan serta integritas wilayah di masing-masing negara.

Retno menambahkan Indonesia memiliki perhatian besar terhadap kawasan pasifik dan negara kepulauan kecil di sana karena itulah wakil dari Pasifik akan diundang dalam kegiatan selama Indonesia menjabat Presidensi G20 mulai 1 Desember tahun ini. 

Pada kesempatan yang sama Retno juga menyampaikan apresiasi atas dukungan Selandia Baru terhadap pelaksanaan 2nd Pacific Exposition 2021 yang berlangsung pada 27-30 Oktober 2021 dan telah dikunjungi oleh sebelas ribu orang, naik 50 persen ketimbang jumlah pengunjung pada Expo pertama di Auckland.

Dari segi transaksi bisnis, Expo Pasifik Kedua ini mencapai nilai $104 juta, melonjak 48 persen dibanding Expo perdana. 

Indonesia juga menyambut baik peningkatan kerja sama kesehatan antara kedua negara. Sejauh ini, Selandia Baru telah memberikan dukungan pada Indonesia berupa vaksin, ventilator, rapid test dan dukungan untuk lembaga penelitian Eijkman Institute.

Terkait isu kerja sama percepatan pemulihan ekonomi, Retno menekankan perdagangan dan investasi selalu menjadi kunci. Per September 2021, tren perdagangan bilateral Indonesia-Selandia Baru meningkat 37 persen di angka $1,25 miliar dibanding periode serupa tahun lalu.

Namun Retno mengingatkan butuh usaha keras untuk meraih target nilai perdagangan sebesar $2,8 miliar pada 2024. Selain itu, dia menegaskan pula pentingnya perdagangan bilateral yang lebih seimbang. 

Karena itu, Indonesia meminta kepada Selandia baru membuka akses pasar bagi produk buahan tropis dari Indonesia serta penguatan investasi dan program peningkatan kapasitas di bidang pertanian dan peternakan di Indonesia.

Retno berharap kerjasama perdagangan seperti Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-Australia-Selandia Baru dan RCEP (kemitraan Eknomi Komprehensif Regional) dapat dimanfaatkan untuk mendorong perdagangan dan investasi.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Luar Negeri Selandia Baru Nanaia Mahuta, mengatakan dalam pertemuan Komisi Bersama itu kedua negara sepakat tentang pentingnya kerja sama internasional dalam menangani pandemi COVID-19. 

Dia menambahkan negaranya telah mendonasikan 684.400 ribu dosis vaksin COVID-19 kepada Indonesia melalui Fasilitas COVAX dan telah tiba bulan lalu. 

Mahuta menambahkan Selandia baru juga sudah berkontribusi senilai US$ 12,7 juta bagi Indonesia untuk penanganan pandemi COVID-19 sejak wabah ini muncul tahun lalu.

Mahuta menambahkan Selandia Baru terus mendukung Indonesia dalam mencapai komitmen penurunan gas emisi karbon yang telah disampaikan pada konferensi tingkat tinggi (KTT) Iklim Dunia di Kota Glasgow, Skotlandia, awal bulan ini.

Selandia Baru, lanjut Mahuta, akan terus menyokong Indonesia dalam upayanya menurunkan gas emisi karbon dan transisi energi ke energi baru dan terbarukan yang lebih ramah lingkungan.

“(Karena itu) saya dengan rasa senang mengumumkan pendanaan sebeaar US$ 6 juta untuk lima tahun ke depan dalam kemitraan baru dengan the Global Green Growth Institute. Dana ini akan berkontribusi sangat penting bagi upaya Indonesia untuk mempercepat transisi ke arah energi terbarukan dan pada kerja sama sedang berlangsung di sektor energi terbarukan,” ujar Mahuta. 

Menurut Mahuta, Indonesia adalah mitra terbesar bagi Selandia Baru dalam kerja sama pembangunan di luar kawasan Pasifik. Selandia Baru berkomitmen untuk terus memperkuat kerjasama dengan Indonesia termasuk inisiatif yang berkontribusi pada perempuan, iklim dan dukungan terhadap komunitas asli.

Dalam pertemuan itu, Retno dan Mahuta juga membahas isu Myanmar dan Afghanistan. (voa/tan)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.