Tradisi Belanja Black Friday Bagi Diaspora Indonesia

Tun MZ

Warga berbelanja pada "Black Friday" di Commerce, California (26/11).
Warga berbelanja pada “Black Friday” di Commerce, California (26/11).

Washington DC, helloborneo.com – “Black Friday” menandai awal musim belanja akhir tahun, misalnya untuk hadiah Natal, yang jatuh kurang lebih satu bulan setelah Thanksgiving. Toko-toko ritel mengadakan obral besar-besaran, tidak jarang melampaui 50 persen. Konsumen, termasuk diaspora Indonesia, berbondong-bondong mendatangi toko-toko, memanfaatkan diskon pada hari itu.

Seto Tjahjono sudah hampir 30 tahun tinggal di Amerika. Baginya, Black Friday adalah kesempatan mendapatkan diskon besar. Ia menceritakan pengalamannya “berjuang” memperoleh barang incarannya. Ia rela antre hampir lima jam di udara terbuka dengan suhu 2 derajat celcius di depan toko elektronik kegemarannya.

Perjuangannya bersaing dengan puluhan orang lain yang datang jauh lebih awal tidak sia-sia. Seto berhasil mendapatkan barang yang diincar dengan diskon yang luar biasa. Untuk satu TV layar datar, ia mendapat diskon $350, untuk satu laptop dia mendapat diskon $450 dan untuk satu kamera, ia mendapat diskon $300.

Pengalaman serupa dituturkan Emirza Djohan. Ia berprinsip, rela antre panjang dan lama, sementara suhu nyaris pada titik beku, asalkan berhasil mendapat diskon yang signifikan pada barang besar seperti TV layar datar. Menurutnya terlalu dingin pada waktu itu untuk tidak berhasil mendapatkan sesuatu.

Noval Sadia juga ‘memburu’ diskon pada Black Friday untuk console video game canggih merek Xbox yang telah lama ia inginkan. Baginya, antrean panjang dan kesulitan mencari parkir adalah lumrah dan menjadi penyemarak Black Friday. Baginya, itu sepadan dengan hasil yang memuaskan.

Noval mengaku senang berbelanja pada Black Friday. Selain mendapatkan harga bagus untuk barang yang diinginkan, ia mendapat pengalaman sangat berkesan, yang menurutnya tidak bisa ia dapatkan di negara lain. “Karena itu pengalaman yang berbeda, nggak seperti di Indonesia. Di Amerika, di UK (Inggris) atau di Kanada, semua ada Black Friday, tapi experiencenya lebih menggilakan di Amerika,” ujarnya.

Walau demikian, Noval mengingatkan pentingnya berhati-hati dalam memilih barang. Ia menyarankan agar pemburu barang pada Black Friday mempelajari terlebih dahulu harga ritel asli barang yang diobral. “Kadang ada barang yang harganya kelihatan murah tapi sebenarnya tidak,” imbuh Noval.

Imbauan agar tidak terbuai obral, juga diutarakan oleh Pasha Ranakusuma. Mengaku tidak suka pada Black Friday, Pasha mengatakan, dengan adanya inflasi dan pandemi, orang selayaknya berhati-hati pada uang yang mereka belanjakan. Walau pernah merasakan belanja ketika Black Friday untuk membeli “iPod touch”, Pasha kini memilih belanja online. Alasannya, tidak repot. Barang bisa dikirim ke rumah, dan dia tidak harus antre di tengah udara dingin untuk berebut dengan konsumen lain demi mendapatkan harga murah.

Irma Hardjakusumah juga kurang menyukai belanja pada saat Black Friday. Selama 22 tahun berada di Amerika, perancang interior dan pendiri Studio Left ini baru dua kali berbelanja ketika Black Friday. Beberapa tahun belakangan, kehadiran Irma saat Black Friday adalah untuk mengawasi pembukaan Holiday Market yang ia tangani di seputar kota Los Angeles.

Bagi Erick Nugraha, Black Friday adalah saatnya memburu barang-barang yang susah didapat ataupun baru dilepas ke pasaran. Menurutnya, ada semacam rasa prestise untuk menjadi salah satu pemilik pertama dari barang tesebut. Kini dengan semakin banyaknya toko ritel yang menawarkan produk secara online, konsumen dapat memilih bagaimana cara mereka berbelanja.

“Dulu kita harus yah untuk nunggu di depan toko karena memang produknya terbatas, tapi sekarang, apalagi karena Covid, banyak produsen sekarang itu udah mencoba melepaskan (produk) Black Friday itu jauh-jauh hari sebelumnya. Dan itupun bisa diorder secara online. Which is jauh lebih convenient buat kita untuk dapetin barang-barang yang kita mau, yang memang lagi sale,” ungkap Erick.

Kecenderungan sebagian orang memilih berbelanja online inilah yang kemudian mendapat julukan “Cyber Monday”. Jadi daripada harus ramai-ramai menunggu toko buka pada Black Friday, mereka bisa berbelanja pada hari Senin setelah Thanksgiving. Dengan demikian mereka tetap bisa berada di rumah tanpa harus berdesak-desakan dan berebut tempat dengan konsumen lainnya. (voa/tan)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.