Sidang Pertama, Jaksa Penuntut: Maxwell dan Epstein Merupakan “Partners in Crime”

Tun MZ

Ilustrasi yang menggambarkan Ghislaine Maxwell yang tengah duduk dalam persidangan ketika para juri diambil sumpahnya dalam persidangan kasus perdagangan seks yang melibatkan Maxwell digelar di Kota New York, pada 29 November 2021. (Foto: Reuters/Jane Rosenberg)
Ilustrasi yang menggambarkan Ghislaine Maxwell yang tengah duduk dalam persidangan ketika para juri diambil sumpahnya dalam persidangan kasus perdagangan seks yang melibatkan Maxwell digelar di Kota New York, pada 29 November 2021. (Foto: Reuters/Jane Rosenberg)

Washington DC, helloborneo.com – Seorang jaksa pada Senin (29/11) mengatakan Ghislaine Maxwell dan mendiang Jeffrey Epstein adalah “partners in crime” (mitra dalam kejahatan) pada kasus pelecehan seksual terhadap gadis-gadis remaja yang melibatkan nama kedua pesohor tersebut.

Dalam pernyataan pembukaan di persidangan perdagangan seks yang dituduhkan pada Maxwell, Asisten Jaksa Amerika Serikat (AS), Lara Pomerantz, mengatakan pada juri di pengadilan New York bahwa Maxwell dituduh telah merekrut dan merawat gadis-gadis remaja untuk disalahgunakan oleh pebisnis Jeffrey Epstein antara tahun 1994-2004.

Sebaliknya kuasa hukum Maxwell, Bobbi Sternheim mengatakan sosialita Inggris berusia 59 tahun itu telah dijadikan kambing hitam setelah Epstein bunuh diri dua tahun lalu.

Maxwell pernah berpacaran dengan Epstein, dan sejak ditangkap ia telah dipenjara di Brooklyn. Maxwell mengaku tidak bersalah dalam kasus tersebut.

Pomerantz mengatakan Maxwell dan Epstein membujuk para gadis, di mana yang termuda berusia 14 tahun, untuk terlibat dalam “apa yang disebut sebagai kegiatan memijat” di mana pelecehan seksual dinilai sebagai hal yang “biasa dan normal” setelah korban diberi uang dan hadiah-hadiah.

Jaksa berusaha menjelaskan kepada 12 anggota juri bahwa tidak ada keraguan soal apakah Maxwell, yang merupakan teman lama Epstein, adalah boneka atau kaki tangannya.

Jaksa menggambarkan Maxwell memiliki peran penting dari skema pelecehan seksual Epstein, yang menurutnya telah berlangsung selama lebih dari satu dekade.

“Sejak awal ia sudah terlibat. Terdakwa dan Epstein memikat korban mereka dengan janji masa depan yang cerah, hanya untuk mengeksploitasi mereka secara seksual,” tegas Pomerantz, sementara jaksa Damian Williams menyimak dari bangku penonton.

“Maxwell terlibat dalam setiap bagian kehidupan Epstein,” ujar jaksa. “Terdakwa adalah lady of the house (nyonya rumah)!”

Ia menambahkan, setelah Maxwell dan Epstein tidak lagi menjalin hubungan asmara, keduanya “tetap menjadi sahabat baik.”

Maxwell, ujar Pomerantz, “membantu menormalisasi perilaku seksual yang kasar” dengan membuat para gadis remaja itu merasa aman, dan dengan mengajak mereka berbelanja, menanyakan tentang kehidupan, sekolah dan keluarga mereka.

Dalam persidangan tersebut, jaksa berbicara dari kotak tembus pandang yang terbuat dari plastik, yang memungkinkannya melepas masker. Sementara Maxwell, yang mengenakan celana hitam dan baju hangat atau sweater berwarna coklat muda, sesekali menulis dan menyampaikan catatan kepada pengacaranya.

Dalam kesempatan yang sama, kuasa hukum Maxwell, Bobby Sternheim mengatakan kliennya adalah “kambing hitam bagi seorang laki-laki yang berperilaku buruk,” seperti banyak perempuan lain sejak jaman Adam dan Hawa.

“Ia bukan Jeffrey Epstein. Ia tidak seperti Epstein,” atau laki-laki berkuasa, mogul dan pemilik media raksasa yang melecehkan perempuan, ujar Sternheim.

Ia mengibaratkan Epstein seperti peribahasa “gajah di pelupuk mata yang tidak tampak”, mengacu pada kondisi di mana semua orang sebenernya telah mengetahui perilaku Epstein yang bermasalah namun enggan membicarakannya. “Ia tidak terlihat tetapi mempengaruhi seluruh orang di ruang pengadilan ini, bahkan publik di luar ruang pengadilan,” tambahnya.

Sternheim mengatakan empat perempuan yang akan memberikan kesaksian bahwa Maxwell merekrut mereka untuk dilecehkan secara seksual, menderita masalah ingatan dan dipengaruhi oleh pengacara-pengacara yang memandu mereka untuk mendapatkan uang dari dana yang didirikan oleh tim Epstein setelah ia bunuh diri pada Agustus 2019 di penjara federal di Manhattan, saat menunggu sidang kasus perdagangan seks atas dirinya sendiri.

Lebih jauh Sternheim mengatakan “mereka yang menuduh (Maxwell) telah mendapatkan banyak uang dan jutaan dolar telah jatuh ke tangan mereka.”

Pernyataan-pernyataan pembukaan itu menggambarkan suasana sidang pengadilan yang akan berjalan selama enam minggu ke depan. Selama sidang pertama yang berlangsung pada Senin (29/11), Maxwell berulangkali memandang ke arah saudara perempuannya yang duduk di barisan depan penonton yang dibatasi jarak karena pembatasan sosial terkait COVID-19.

Maxwell, yang pernah berpacaran dengan Epstein, dituduh bertindak sebagai orang yang memuluskan rencana Epstein; dengan merekrut dan merawat gadis-gadis belia itu untuk dilecehkan secara seksual.

Tuduhan terhadap Maxwell didasarkan dari tuduhan empat perempuan yang mengatakan mereka telah menjadi korban pelecehan seksual Maxwell dan Epstein dari tahun 1994 hingga 2004.

Pomerantz mengatakan pelecehan seksual itu terjadi di rumah Epstein, termasuk di kawasan milik Epstein di Palm Beach, Florida; di sebuah townhouse mewah di Manhattan, di sebuah peternakan di Santa Fe, New Mexico, di sebuah apartemen di Paris dan perkebunan di Kepulauan Virgin.

Saksi pertama yang diajukan adalah Lawrence Paul Visoski Jr, yang bekerja untuk Epstein mulai tahun 1990an sebagai pilot pesawat jet pribadi yang mengantar Epstein, Maxwell dan tamu-tamu lain di berbagai rumah Epstein.

Pada Juli 2020 pihak berwenang menangkap dan mendakwa Maxwell setelah melacak keberadaannya di sebuah perkebunan bernilai satu juta dolar di New Hampshire, tempat di mana ia bermukim selama perebakan pandemi virus corona.

Maxwell mengaku tidak bersalah dan menyangkal keras melakukan kesalahan.

Sejak ditangkap, ia dipenjara di Brooklyn. Ia menyebut klaim terhadap dirinya sebagai “sampah.”

Kuasa hukum dan keluarga Maxwell mengatakan ia adalah gadaian bagi Esptein, yang membayar “utang” untuk memuaskan keinginan publik yang ingin melihat ada seseorang yang bertanggung jawab atas kejahatan yang dilakukan Epstein.

Maxwell, yang kaya dan berpendidikan, adalah putri raja surat kabar Inggris, Robert Maxwell, yang meninggal setelah jatuh dari kapal pesiarnya “Lady Ghislaine” di dekat Kepulauan Canary pada tahun 1991. Robert Maxwell, yang juga memiliki New York Daily News, menghadapi tuduhan menjarah secara ilegal uang pensiun usahanya.

Maxwell memiliki kewarganegaraan Amerika, Inggris dan Prancis. Permohonan uang jaminan untuk membebaskan perempuan itu telah berulangkali ditolak oleh pengadilan. (voa/tan)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.