Enam Polisi Pembunuh Tahanan Polresta Balikpapan Dituntut Hukuman Penjara

David Purba

Foto Humas Pengadilan Negeri Balikpapan, Arif Wisaksono.

Balikpapan, helloborneo.com – Enam polisi pelaku pembunuhan tahanan Polresta Balikpapan dituntut hukuman penjara dengan masa hukuman yang berbeda dalam sidang tuntutan di Pengadilan Negeri setempat.

Sidang kasus peganiayaan seorangan tahanan Polresta Balikpapan memasuki sidang tuntutan yang dilaksanakan, Senin (29/11), ujar Humas Pengadilan Negeri Balikpapan, Arif Wisaksono ketika ditemui helloborneo.com di Balikpapan, Rabu.

“Terdakwa AG, ASR, RSS, GR, dan RH dituntut empat tahun penjara, kemudian KKA dituntut dua tahun penjara,” tambahnya.

Ke enam terdakwa tersebut lanjut ia, terbukti bersalah telah melalukan tindak pidana. Mereka yang melakukan, menyuruh melakukan dan turut serta melakukan dengan sengaja melakukan penganiayaan berat yang mengakibatkan kematian, sesuai pasal 351 ayat 3 KUHP junto pasal 55 ayat 1 KUHP.

JPU juga membebaskan terdakwa dari dakwaan primair pasal 170 ayat 2 KUHP, subsider pasal 170 ayat 1 KUHP subsider pasal 351 ayat 2 KUHP junto pasal 55 ayat 1 KUHP lebih subsider pasal 351 ayat 1 KUHP junto pasal 55 ayat 1.

Sidang lanjutan, rencananya akan digelar pada Senin (6/12), dengan agenda pembelaan dari masing-masing penasehat hukum terdakwa.

“Setelah itu nanti baru kita lanjutkan ke sidang putusan. Kemungkinan akan dilakukan secara daring (dalam jaringan/online),” ucap Arif Wisaksono.

Kasi Intel Kejari Balikpapan, Oktario Hutape menambahkan, ke enam terdakwa tersebut dituntut sesuai peran masing-masing terdakwa dengan pasal yang didakwakan pada pasal 351 ayat 3 junto pasal 55 ayat 1 KUHP.

“Dalam persidangan, pasal itu yang memang terbukti dilakukan oleh para terdakwa,” Jelasnya.

Sejumlah faktor yang memberatkan tuntutan, mulai dari perbuatan para terdakwa berakibat hilangnya nyawa, Ditambah enam terdakwa merupakan oknum polisi di Polresta Balikpapan yang perbuatannya telah menimbulkan keresahan.

Terkait faktor yang meringankan kata Oktario Hutape, adalah ke enam terdakwa selalu bersikap kooperatif, sehingga persidangan dapat berjalan lancar.

“Dan yang paling menonjol adalah sempat terjadinya porses perdamaian antara terdakwa dengan keluarga korban,” ungkapnya. (bp/hb)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.