Balitbang Perhubungan Lakukan Survei Mobilitas Natal Dan Tahun Baru

ES Yulianto

Grafik Mobilitas Natal 2021 dan Tahun Baru 2022 Hasil Survei Balitbang Perhubungan. (Ist)

Jakarta, helloborneo.com – Pusat Penelitian dan Pengembangan Transportasi Jalan dan Perkeretaapian Balitbang Perhubungan melakukan survei mobilitas Natal 2021 dan Tahun Baru 2022 secara daring (online) pada 1-15 Desember 2021 kepada responden 49.075 orang di wilayah studi Jawa, Bali dan Jabodetabek.

Wilayah Jawa dan Bali memiliki populasi penduduk 156 juta orang (BPS, 2020). Dilihat dari profil yang terbanyak melakukan perjalanan adalah laki-laki (77 persen), usia 20-30 tahun (45 persen), pendidikan SMA/sederajat (48 persen), pekerjaan karyawan swasta (27 persen), dan penghasilan di bawah Rp3 juta (70 persen).

Puncak pergi masyarakat pada liburan Natal pada 24 Desember 2021 sebesar 7,8 persen, dan juga 25 Desember sebesar 7,2 persen. Puncak pergi pada liburan tahun baru pada Jumat 31 Desember 2021 sebesar 8,6 persen.

Perlu diperhatikan masyarakat yang akan melakukan perjalanan sebelum tanggal H-7 dan setelah Senin 2 Januari 2022.

Puncak pulang masyarakat pada liburan Natal dan tahun baru adalah pada hari Minggu 2 Januari 2022. Perlu diperhatikan masyarakat yang akan pulang setelah Senin 2 Januari 2022.

Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno dalam keterangan pers tertulis yang diterima helloborneo.com, Minggu mengungkapkan, potensi lonjakan kasus cukup rentan terjadi pada saat ini.

Menurut dia, beberapa moda transportasi saat ini rawan menjadi sumber penyebaran, seperti moda angkutan darat (angkutan), dan perairan (kapal).

“Untuk yang rawan seperti moda sungai, darat dan kapal,” ungkapnya.

Kondisi moda transportasi tersebut tidak jarang ditemui sebagai transportasi tidak sehat. Dia menjelaskan, transportasi tidak sehat yang dimaksud yakni penerapan protokol kesehatan hingga kebersihan moda transportasi.

“Selama ini dalam Standar Pelayanan Minimal (SPM) penyelenggaraan angkutan tidak ada aspek kesehatan atau higienis, selamat, aman, nyaman,” ujarnya.

“Dalam kriteria sehat juga harus ditingkatkan lagi seperti yang diinginkan yakni sistem pengaturan udara dalam bus, kursi yang berjarak hingga wajib menggunakan masker,” tambahnya.

Dalam momen akhir tahun, pemerintah dianggap todak abai memperhatikan aspek-aspek tersebut. Tentunya semua pihak tidak ingin gelombang ketiga dengan adanya varian Omicron menjadi hadiah akhir 2021.

“Jangan sampai varian Omicron menyebar meluas di tanah air dan dihindari tidak terjadi gelombang ketiga,” kata Djoko Setijowarno. (bp/hb)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.