Jumlah Kasus Kekerasan Perempuan Dan Anak Di Penajam Meningkat

ES Yulianto

Plt Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Penajam Paser Utara, Siti Aminah.

Penajam, helloborneo.com – Jumlah kasus kekerasan perempuan dan anak di Kabupaten Penajam Paser Utara hingga akhir 2021 mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya, kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) setempat Siti Aminah.

“Diakhir 2021 tercatat 30 kasus kejahatan perempuan dan anak atau meningkat empat kasus dibandingkan 2020 terdata 26 kasus,” ujar Siti Aminah ketika ditemui helloborneo.com di Penajam, Kamis.

Sosialisasi yang gencar dilakukan Dinas P3AP2KB Kabupaten Penajam Paser Utara, membuat masyarakat yang terdampak akan kekerasan perempuan dan anak mulai berani melapor.

“Memang meningkat karena ketika gencar dilakukan sosialisasi masyarakat tahu di mana harus melapor, sebab kasus itu memang ada tetapi masyarakat malu dan belum tahu di mana mengadukan kasus itu,” tambahnya.

Dinas P3AP2KB Kabupaten Penajam Paser Utara mengambil langkah dengan melakukan mediasi hingga pendampingan ke ranah hukum terhadap korban kekerasan perempuan dan anak.

“Kami lakukan pendampingan sesuai kasus kalau bisa dilakukan mediasi, kalau harus ke jalur hukum kami bantu pendampingan,” ucapnya.

Jumlah kasus tersebut menurut Siti Aminah tersebar diempat kecamatan di Kabupaten Penajam Paser Utara, yakni Kecamatan Sepaku, Babulu, Waru hingga Kecamatan Penajam.

Ketua Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga Kabupaten Penajam Paser Utara, Risna Rais Abdul Gafur turut perihatin, menurut dia, pengawasan orang tua bisa menjadi pencegah kasus tersebut.

Di tengah kemajuan era digital di mana tidak jarang perbuatan vulgar mudah ditemui di media sosial, pemantauan terhadap penggunaan media sosial pada usia remaja harus diawasi oleh para orang tua apalagi di tengah pandemi COVID-19 usia remaja sering memegang gadget karena tidak sekolah.

“Karena keadaan pandemi orang tua yang memiliki anak yang usia remaja harus pantau dalam penggunaan gadget dalam mengakses media sosial,” kata dia.

Risna Rais Abdul Gafur berharap pengawasan dalam penggunaan gadget anak usia remaja harus lebih ditingkat oleh orang tua saat ini.

“Harapan saya orang tua berperang aktif dalam pemantauan penggunaan gadget untuk berselancar di media sosial,” ucapnya. (bp/hb)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.