Anjing Laut Bantu Ilmuwan Kumpulkan Data di Antartika

Tun MZ

Anjing laut jenis Weddell dilengkapi dengan alat pengukur berteknologi tinggi yang dipasang di kepalanya, untuk mengamati perairan di bawah lapisan es tebal, dekat Stasiun Showa Jepang di Antartika, April 2017. (Institut Nasional Penelitian Kutub/Handout via REUTERS).
Anjing laut jenis Weddell dilengkapi dengan alat pengukur berteknologi tinggi yang dipasang di kepalanya, untuk mengamati perairan di bawah lapisan es tebal, dekat Stasiun Showa Jepang di Antartika, April 2017. (Institut Nasional Penelitian Kutub/Handout via REUTERS).

Tokyo, helloborneo.com – Sudah menjadi pengetahuan umum kondisi cuaca di Antartika, yang juga dikenal sebagai Kutub Selatan, luar biasa brutal. Menembus kedalaman air di bawah lapisan permukaan esnya merupakan sesuatu yang nyaris mustahil bagi manusia.

Namun, itu tidak menghalangi keinginan para ilmuwan Jepang untuk mencari tahu apa dan bagaimana situasi jauh di kedalaman air yang sangat dingin itu. Mereka pun memanfaatkan hewan yang biasa hidup di perairan itu, yakni anjing laut.

Pemimpin proyek itu, Nobuo Kokubun, mengatakan, mereka memanfaatkan delapan anjing laut jenis Weddell. Hewan itu masing-masing dilengkapi dengan perangkat seberat 580 gram di kepala mereka untuk merekam suhu air dan kadar garam jauh di kedalaman air.

“Selama musim panas, kita bisa pergi (ke Antartika) dengan kapal pemecah es untuk melakukan kegiatan penelitian yang sebenarnya, sehingga kita dapat mengumpulkan data di sana. Tetapi selama musim dingin, hal-hal seperti itu tidak dapat dilakukan di banyak tempat. Namun, bahkan dalam situasi seperti selama musim dingin, banyak hewan seperti anjing laut hidup di daerah Antartika, jadi saya pikir kita harus meminta mereka mengumpulkan data untuk kita.”

Proyek mereka bukan proyek baru. Namun, hasil studi proyek yang digelar antara Maret dan November 2017 di Antartika ini, atau tepatnya selama musim dingin di sana, dirilis baru-baru ini, seiring makin gencarnya pembicaraan soal perubahan iklim dan dampaknya bagi lingkungan, termasuk Antartika.

Ia mengatakan penelitian semacam itu membantu para ilmuwan melacak pola perilaku dan ekologi hewan. Perangkat yang ditempatkan di kepala anjing laut itu disebut CTD, yang tidak lain adalah sensor konduktivitas, suhu dan kedalaman. Sensor itu memungkinkan para ilmuwan mengumpulkan data pengamatan di daerah di mana kondisi lingkungannya sangat keras.

Data yang berhasil dikumpulkan oleh tujuh dari delapan anjing laut menunjukkan bahwa salah satu hewan tersebut melakukan perjalanan sejauh 633 kilometer dari pantai Stasiun Showa Jepang di Antartika sementara yang lain turun hingga kedalaman 700 meter.

Berdasarkan data yang terkumpul, Kokubun mengatakan para ilmuwan mengetahui bahwa air laut hangat dari lapisan atas laut terbuka bisa mencapai Antartika dari Maret hingga musim dingin tahun itu. Air itu mengalir di bawah lapisan es, dan membawa makhluk-makhluk laut seperti krill Antartika yang merupakan sumber makanan utama bagi anjing laut.

Proyek berikutnya tim ilmuwan Jepang ini adalah mengkaji dampak pemanasan global di kawasan pesisir Antartika. Kokubun berharap bisa memodifikasi CTD agar dapat dipasang pada hewan lain di Kutub Selatan seperti penguin.

“Kelebihan penguin adalah mereka selalu kembali ke tempat yang sama dan kami dapat segera mengumpulkan data dari mereka. Selain itu, keuntungan lainnya adalah kami dapat memanfaatkan perangkat kami pada penguin dalam jumlah besar sehingga dapat mencakup area penelitian yang luas.”. (voa/tan)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.