Bela Kebijakan Qatar, Presiden FIFA Kecam Balik Para Kritikus HAM

Dua orang difoto di Doha Corniche di depan kaki langit modern sehari sebelum dimulainya Piala Dunia Sepak Bola di Doha, Qatar, Sabtu, 19 November 2022. (Foto: AP/Martin Meissner)
Dua orang difoto di Doha Corniche di depan kaki langit modern sehari sebelum dimulainya Piala Dunia Sepak Bola di Doha, Qatar, Sabtu, 19 November 2022. (Foto: AP/Martin Meissner)

Doha, helloborneo.com – Presiden Federasi Sepak Bola Internasional FIFA Gianni Infantino mengatakan ia merasa menjadi gay, menjadi seorang perempuan, menjadi pekerja migran. Pernyataan ini disampaikannya dengan nada berang, menanggapi kecaman terhadap catatan hak asasi manusia Qatar – yang menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022. Infantino juga membela keputusan Qatar pada menit-menit terakhir yang melarang penjualan bir di seluruh stadion sepak bola. 

Selama satu jam Infantino “memberikan kuliah” dan menjawab pertanyaan dari media tentang kebijakan pemerintah Qatar dan berbagai topik lain. 

“Hari ini saya merasa sebagai orang Qatar,” ujar Infantino di awal konferensi pers pertamanya di Piala Dunia. “Hari ini saya merasa Arab, saya merasa Afrika, saya merasa menjadi gay, saya merasa menjadi orang difabel, saya merasa menjadi pekerja migran.”

Sejak dipilih FIFA pada tahun 2010 lalu untuk menjadi tuan rumah turnamen sepak bola terbesar di dunia, Qatar telah menghadapi berbagai kecaman sengit. 

Sebuah kelompok HAM yang berkantor di London, Equidem, bulan ini merilis laporan setebal 75 halaman yang mengkritisi kondisi buruh migran yang membangun stadion-stadion sepak bola Qatar, yang bekerja selama berjam-jam dalam kondisi berat, kerap menjadi sasaran diskriminasi, penipuan upah dan pelanggar lain karena majikan mereka menolak bertanggungjawab. 

Infantino membela kebijakan imigrasi negara itu, dan memuji pemerintah pimpinan Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani karena mengajak migran bekerja. “Kami di Eropa, telah menutup perbatasan dan tidak mengizinkan hampir semua migran di negara-negara Eropa untuk bekerja secara legal di negara kami,” ujar Infantino seraya menambahkan “jika Eropa benar-benar peduli dengan nasib orang-orang ini, para pemuda ini, maka Eropa juga dapat melakukan apa yang dilakukan Qatar. Beri mereka pekerjaan, beri mereka masa depan, beri mereka sedikit harapan. Kritik moral secara sepihak hanyalah kemunafikan semata.”

Qatar diperintah oleh seorang emir yang secara turun-temurun memiliki suara mutlak atas semua keputusan pemerintah. Qatar juga mengikuti bentuk Islam ultra-konservatif yang dikenal sebagai Wahabisme. 

Penemuan gas alam pada tahun 1990an, telah mengubah Qatar dalam beberapa tahun terakhir ini. Namun, negara itu menghadapi tekanan dari dalam negeri untuk tetap menjaga warisan Islam dan akar Badui. 

Di bawah pengawasan internasional yang ketat, Qatar telah melakukan sejumlah reformasi tenaga kerja dalam beberapa tahun ini. Hal itu dipuji Equidem dan kelompok-kelompok HAM lain, tetapi mereka juga mengatakan masih ada pelanggaran yang meluas dan hanya ada sedikit jalan bagi para pekerja untuk mendapatkan ganti rugi. 

Namun, demikian Infantino tetap mengkritisi pihak-pihak yang mengkritisi Qatar. “Apa yang telah kami – orang Eropa – lakukan selama 3.000 tahun terakhir, kami harus minta maaf selama 3.000 tahun ke depan sebelum mulai memberikan pelajaran moral kepada orang lain,” ujarnya pada ratusan media internasional yang menghadiri konferensi pers sehari sebelum dimulainya Piala Dunia 2022. (voa/log)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.