Dosen Fakultas Hukum Universitas Bengkulu Kampanyekan Larangan Ajaran Kebencian Berbasis Agama

Tun MZ

Netizen Indonesia seringkali emosional dan bersifat personal dalam melempar atau menanggapi satu isu di media sosial (foto: ilustrasi).
Netizen Indonesia seringkali emosional dan bersifat personal dalam menanggapi satu isu di media sosial (foto: ilustrasi).

Bengkulu, helloborneo.com – Pengabdian Masyarakat adalah salah satu dari tiga kewajiban yang melekat pada profesi dosen khususnya menjadi tridarma perguruan tinggi. Universitas Bengkulu sebagai Universitas kebanggaan warga Bengkulu selalu mengambil peran dan garda terdepan dalam upaya mengurai masalah-masalah sosial yang terjadi ditengah masyarakat khususnya di Provinsi Bengkulu.

Melalui program pengabdian kepada masyarakat, Tahun ini Tiga Dosen FH UNIB yaitu Ari Wirya Dinata, Pipi Susanti, dan Ariel Elcaputera menaruh perhatian dan kepeduliannya terhadap kejahatan di dunia maya salah satunya adalah kerentanan masyarakat dalam menyalahgunakan media sosial.

Alih-alih digunakan untuk medium berkomunikasi dan mencari informasi justru kerapkali media sosial justru menjadi sarang untuk menebar kebencian dan budaya intoleran terhadap keberagaman Indonesia baik diversitas agama, etnis, budaya, Bahasa dll. 

“Maraknya penyalahgunaan sosial media untuk menebarkan ujaran kebencian (hate speech) dan penghinaan agama (blasphemy) akan berpotensi menimbulkan perpecahan (disintegrasi) dan konflik horizontal di tengah masyarakat,” ujar Ari Wirya Dinata.

Ari Wirya Dinata menambahkan untuk itu perlu suatu upaya pencerahan dan pendidikan penggunaan sosial media secara bijak. Agar kemajuan teknologi komunikasi ini tidak menjadi boomerang yang justru merugikan penggunanya.

“Tidak dapat dipungkiri ujaran kebencian dan penghinaan atas agama dapat dijerat menggunakan sejumlah instrument hukum baik yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) ataupun menggunakan UU Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE),” jelas Ari Wirya Dinata.

Sementara itu Pipi Susanti menambahkan karena sudah banyak kasus penyalahgunaan dan ketidakbijaksanaan sosial media sebagai alat provokasi menimbulkan konflik antar umat beragama dan juga berujung pidana bagi pelakunya. Itulah yang menjadi konsen dan kepedulian tiga dosen muda ini, sehingga mengangkat tajuk sosialisasi larangan ujaran kebencian dan pengajaran budaya toleransi atas kebebasan beragama dan berkeyakinan (KBB).

Sebagai bangsa yang majemuk maka budaya bertoleransi dan tenggang rasa harus selalu dipupuk. Ini merupakan pengajaran awal dari nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

Sayangnya kemajuan teknologi, globalisasi dan modernisasi kadang kala membuat warga merasa kebebasan tanpa batas dan tanpa menghargai keyakinan dan perbedaan yang ada. Untuk itu butuh upaya-upaya memperkuat kebersamaan dan persatuan dan kesatuan di tengah pluralitas yang bangsa Indonesia miliki.

Pengabdian ini bertujuan mengedukasi dan mendiseminasikan pengaturan hukum yang bisa dikenakan kepada pelaku. Sasaran dari kegiatan ini ditujukan kepada pelajar sebab menurut hasil kajian dosen pelaksana pengabdian bahwa remaja merupakan pengguna terbesar sosial media dan merupakan kelompok yang terpapar banyak akibat penggunaan sosial media baik twitter, facebook, Instagram, Tiktok dll. 

“Oleh karena itu pemilihan target sasaran pelajar dirasa tepat, ditambah mereka juga merupakan generasi milineal yang nantinya akan menjadi pemimpin bangsa. Sehingga menanamkan nilai nilai toleransi, persatuan, tenggang rasa dan saling menghormati dan menghargai sesama manusia adalah sesuatu yang penting,” ujar Pipi Susanti.

Arie Elcaputera secara terpisah mengatakan Kegiatan ini dihadiri oleh kurang lebih 50 siswa/siswi SMAN 2 Kota Bengkulu dari berbagai kelas dan latar belakang agama. Seminar sehari ini diisi oleh para pembicara yang juga memiliki konsen dan perhatian yang sama mengenai pentingnya mengajarkan tentang akibat hukum dari ujaran kebencian dan penghinaan agama di sosial media. 

Arie Elcaputera menegaskan seluruh pelajar merasakan manfaat dari keikutsertaan kegiatan karena jadi lebih bijak dan berhati-hati dalam membuat status dan menebarkan informasi di sosial media (forward message)  yang mengandung dan patut diduga berpotensi mengandung unsur yang bisa menyulut konflik SARA.

“Selain itu pelajar merasa mendapatkan informasi tambahan sanksi-sanksi pidana apa yang akan dijatuhkan kalau melakukan kejahatan ujaran kebencian. Dengan mengikuti kegiatan ini kami juga belajar untuk menghormati perbedaan dan melihat perbedaan sebagai rahmat dan sesuatu untuk saling belajar menghargai dan menghormati satu dengan yang lain. Semoga kegiatan ini dapat membentuk moral dan menumbuhkan nilai-nilai toleransi antar pelajar,” pungkas Arie Elcaputera. (log)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.