Lestarikan Situs Geopark Meratus Melalui Jurnal Penelitian Keanekaragaman Hayati

Situs Geopark Meratus Melalui. (Ist)
Situs Geopark Meratus Melalui. (Ist)

Banjarbaru, helloborneo.com – Pelestarian keanekaragaman hayati di Kawasan Geopark Meratus saat ini telah diupayakan melalui beberapa program, baik yang diinisasi oleh Pemerintah, maupun secara mandiri atau kolaborasi oleh pihak komunitas, akademisi, yayasan, juga swasta/pelaku usaha.

Saat ini, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Selatan (Kalsel) melalui Badan Pengelola Geopark Meratus telah menginventarisasi artikel-artikel dari jurnal penelitian dalam kurun lima tahun terakhir terkait keanekaragaman hayati, yang tentunya sangat bermanfaat bagi upaya pelestarian dan pengembangan pemanfaatan kawasan kedepannya.

“Sebagai bentuk implementasi kerja sama dibidang pengembangan penelitian dengan mitra akademisi Badan Pengelola Geopark Meratus (BPGM), yaitu Universitas Lambung Mangkurat (ULM), pada tahun ini,kami mendapat dukungan melalui UPA Lingkungan Lahan Basah (UPA LLB) yang diketuai oleh Ibu Maya untuk melakukan penelitian mandiri keanekaragaman hayati di Hutan Hujan Tropis Kahung, Desa Belangian yang mana merupakan situs Geopark Meratus di Rute Timur,” kata Hanifah Dwi Nirwana.

Hanifah yang juga Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kalsel ini juga menyebutkan di kawasan hutan tersebut tumbuh ragam flora, seperti berbagai jenis tegakan pohon yang tumbuh secara alami, berbagai spesies jamur, anggrek serta kantong semar.

“Ke depannya juga BGPM menginisiasi kolaborasi dengan UPT Tahura dan juga Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia akan membangun pusat riset biodiversitas Hutan Hujan Tropis Kahung yang kaya akan manfaat baik secara bidang hayati juga memberikan dampak ke ekonomi masyarakat di sekitar melalui pengembangan wisata minat khusus dari daya tarik fauna dan floranya,”jelasnya.

Diakuinya, di kawasan hutan ini juga menjadi habitat tinggalnya berbagai spesies Herpetofauna dan burung-burung, bahkan mamalia seperti Monyet dan Lutung yang perlu diidentifikasi lebih jauh dan di kawasan Geopark Meratus juga telah dikembangkan pusat konservasi fauna dan flora endemik Kalsel.

“Hal itu di antaranya pertama Rumah Konservasi Anggrek di Tahura Sultan Adam oleh UPT Tahura Sultan Adam. Disini terdapat sekitar 110 jenis anggrek yang terdiri dari 58 jenis anggrek spesies asli dan 58 jenis anggrek lain yang berasal dari luar wilayah Taman Hutan Raya Sultan Adam Mandiangin dan pemberian dari pihak ketiga,” terang Hanifah.

Selanjutnya ada Kampung Anggrek Raudatul Jannah di Desa Tumingki Kabupaten HSS, kolaborasi antara DLH Provinsi Kalsel, BPGM bersama PT Antang Gunung Meratus, Pemkab HSS, PAI dan LAN yang akan diresmikan pada 26 Mei 2024.

Pengembangan Kampung Anggrek ini menjadi cita-cita bersama agar masyarakat teredukasi bagaimana memberikan perlindungan dan pelestarian terhadap anggrek-anggrek spesies yang ada di Desa Tumingki dan sekaligus bagaimana masyarakat dapat mengelola secara bijak dari kekayaan biodiversitas di kawasan Loksado.

Pihaknya juga memberikan edukasi kepada masyarakat untuk merawat anggrek dan memanfaatkan lokasi ini sebagai salah satu rest area dari jalur bamboo rafting di kawasan Geopark Meratus. Tentunya hal ini jika dikelola dengan baik dapat memberikan manfaat dari sisi ekonomi bagi masyarakat setempat.

“Ketiga ada Pulau Ulin di Riam Kanan oleh UPT Tahura Sultan Adam yang mana merupakan situs geopark Meratus yang dikelola oleh UPT sebagai wujud pelestarian Pohon Ulin yang juga dapat memberikan nilai edukasi kepada masyarakat untuk kepedulian akan eksistensi pohon ini,” tambahnya.

Keempat ada Konservasi Bekantan Curiak di Kabupaten Batola, oleh Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia. Kawasan yang dikelola oleh YSBI ini menjadi pusat riset bekantan dan pelestarian ekosistem lahan basah yang mana kaya akan fauna dan flora seperti mangrove rambai, jeruju yang kita ketahui menjadi pola khas kain sasirangan, lutung, elang bondol, elang brontok, monyet ekor panjang, ikan glodok atau rimpakul dan jenis ikan sungai lain, ular, tupai, dan baru-baru ini ditemukan spesies frogmouth, yaitu burung nokturnal dan termasuk burung langka.

Sebagaimana pilar pengembangan geopark, yakni Konservasi, Edukasi dan Pengembangan Ekonomi Masyarakat yang berkelanjutan. Masyarakat yang tinggal di kawasan Geopark Meratus secara langsung maupun tidak langsung mendapat manfaat dari adanya keanekaragaman hayati tersebut. Masyarakat secara mandiri maupun didukung oleh berbagai pihak, memanfaatkannya potensi alam ini untuk ekonomi, contohnya juga seperti Purun dan Bambu.

Mereka dapat memanfaatkannya sebagai bahan untuk membuat kerajinan tangan yang tentunya bernilai ekonomi sebagai produk ekonomi kreatif. Keindahan alam dan nilai ilmiah dari situs-situs yang terbentuk dari proses kejadian geologi Meratus ini juga dimanfaatkan masyarakat sebagai objek wisata, sepertu Bukit Langara, Kantawan, Matang Kaladan, Air Panas Tanuhi, Goa Batu Hapu.

“Masyarakat menjaga dan merawat situs-situs ini dan hidup berdampingan secara seimbang dengan budaya yang terbentuk di sekitar kawasan. Pada 30 Mei – 1 Juni nanti, Geopark Meratus akan mendapat kunjungan Pre-assessment oleh tim pakar Komite Nasional Geopark Indonesia (KNGI) bersama K/L terkait, seperti Kemenkomarves, Bappenas, Kemenparekraf dan Badan Geologi. Pre-assessment ini dilakukan sebagai kunjungan lapangan untuk persiapan validasi oleh tim penilai dari UNESCO pada 10 Juli 2024 nanti untuk menjadi bagian dari UNESCO Global Geoparks.

Tentunya, upaya ini kami bersama-sama dengan seluruh stakeholder terutama masyarakat sebagai subjek pengelola di level tapak berkolaborasi dalam persiapan kedatangan asesor nanti,”tambahnya. (ip/log)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.