BRIN Kembangkan Secretom Atasi Peningkatan Stroke

Diskusi saat acara Temu Bisnis antara periset BRIN dengan para Industri di bidang kesehatan. (Ist)
Diskusi saat acara Temu Bisnis antara periset BRIN dengan para Industri di bidang kesehatan. (Ist)

Jakarta, helloborneo.com –  Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengembangkan Secretom UCMSCM Prekondisi Hipoksia, sebagai salah satu inovasi kesehatan, khususnya bidang vaksin, biofarmasi, dan terapeutik. Secretom adalah model noh-human primate NHP sebagai kandidat terapi stroke berbasis stem cell, yang diharapkan menjadi komplemen terapi adjuvant untuk penderita stroke yang saat ini efektivitasnya belum optimal.

Dikutip dari keterangan tertulis www.brin.go.id pada Jumat (31/5/2024), Secretom merupakan hasil dari peneliti Pusat Riset Biomedis, Ratih Rinendyaputri. Hal itu Ratih paparkan dalam kegiatan Temu Bisnis Pemanfaatan Riset dan Inovasi Bidang Kesehatan oleh Direktorat Pemanfaatan Riset dan Inovasi pada Industri (DPRII) di Gedung BJ Habibie Kantor BRIN Thamrin, Jakarta, Kamis (30/5/2024).

Ratih mengaku, risetnya tersebut masih dalam tahap awal atau hulu. Untuk menghilirisasi hasil risetnya, ia masih harus melakukan tahapan – tahapan yang dilalui yang tentunya tidak mudah.

”Penelitian saya ini kemudian diprekondisi dengan harapan bisa menjadi salah satu kandidat terapi stroke,” ujar Ratih. Kondisi itu ia sebut dengan istilah adjuvant stroke.

Proses penelitiannya tersebut, diungkapkan untuk menangkap prevalensi stroke di Indonesia yang setiap tahun semakin meningkat. Harapannya, ini bisa menjadi salah satu komponen adjuvant yang sudah ada.

Dinamai noh-human primate karena belum diberikan ke manusia, melainkan masih bersumber pada limbah dari PT Biofarma. Ratih mengaku menggunakan dari manusia, karena prasyarat risetnya yang banyak dan mengandung risiko, sebagai contoh harus mengecek semua penyakitnya.

Proses tersebut yang menurutnya akan memakan biaya tinggi atau mahal. Namun, meskipun demikian, noh-human primate 97 persen genetiknya menyerupai manusia. Limbah tersebut sudah memenuhi SPF (Spesific Patogen Free), sehingga walaupun tergolong limbah biologis akan tetapi sudah terjamin.

Di tengah melakukan riset, Ratih mengisahkan tantangan pengalamannya saat melakukan pemindahan, sel – sel yang digunakan rusak, dikhawatirkan kerusakan sampai pada otak. Ini yang pada akhirnya ia beralih ke teknologi secretom.

”Jadi secretom itu adalah bioaktif yang disekresikan oleh stem cell. Di situ ada protektor, ada Extracellular Vesicles (EVs), juga ada exsosom yang membawa berbagai protein untuk meregulasi berbagai ekspresi gen,” ujarnya.

Ia berharap, secretom itu dapat mengarakterisasi bahwa jenis – jenis protein yang ternyata berperan penting dalam neuroproteksi, sehingga hal itu jadilah model. Proses yang tidak sederhana ini yang ia uraikan betapa rumitnya proses uji klinis. Demikian ia jabarkan bahwa sistem penyimpanannya sama prosesnya dengan vaksin. Ia menyampaikan bahwa perlunya untuk tetap diteliti dalam menggunakan model noh-human primate tersebut supaya aman untuk digunakan.

Sebagai bahan pembanding, Ratih menjelaskan berbagai riset yang dimuat di berbagai jurnal yang menggunakan media tikus yang dibuat terserang stroke. Sementara, model yang ia kembangkan adalah model invitro karena menggunakan sel neuron dari macaca juga. Sementara menggunakan tikus disebut dengan invivo. Keduanya mempunyai perbedaan jelas dalam Circle of Willis (CoW). Karena ketika melakukan uji menggunakan secretom dari manusia kemudian ke tikus, tingkat permasalahannya yaitu ketika melakukan xenograft (cara pencangkokan).

Ratih mengatakan, terapi itu sudah ada di beberapa rumah sakit dan pihak industri sudah ada yang bisa memproduksi. Namun karena belum dilakukan secara massal, maka proses registrasi lisensinya oleh Badan POM masih mengalami kendala. Ia menyertakan alasan, lantaran masih disamakan dengan obat, sehingga hal tersebut menghambat pihak industri untuk memperoleh peluang produksinya.

Untuk mendorong terjalinnya kolaborasi, diskusi ini menghadirkan para periset dari Organisasi Riset Kesehatan dan juga para pelaku industri bidang medis. Mereka antara lain PT Riseta Medica Inovasia, PT Biotis Pharmaceuticals Indonesia, PT Elo Karsa Utama, PT Bioteknologi Sinergi Mandiri, Siloam Hospital Group, MENSA Group, dan masih banyak lainnya.

Perwakilan dari PT Etana Biotechnologies Indonesia, Andreas Donny Prakasa mengapresiasi hasil riset tersebut. Ia berharap, secepatnya agar terjadi hilirisasi terutama untuk industri bioteknologi dan juga vaksin. Meskipun perjalanan menuju hilirisasi ini dipandangnya penuh dengan tantangan, terutama dalam proses pemenuhan regulasi dari Badan POM. Belum lagi bahwa proses pengurusannya bisa saja membutuhkan investasi besar.

Untuk itu, ia memberikan masukan, agar baik para periset maupun pelaku industri berjalan berdampingan melakukan kolaborasi kerja sama. Salah satu hal yang paling berdampak yaitu ketika melakukan riset tanpa mempertimbangkan fasilitas yang tersedia di Indonesia dan sudah ada platformnya. Ini yang akan mempersulit langkah pengembangan riset menuju industrialisasi.

Donny menyarankan, para pihak harus menjalin komunikasi yang lebih mendalam lagi di dalam mengidentifikasi dan menganalisis riset dari tahapan ke tahapan. Dengan makin sering bertemu dan berdiskusi, Donny merasa cara tersebut sangat efektif untuk mempertemukan kebutuhan kedua pihak sehingga saling bersinergi. Hal tersebut untuk memperjelas pertimbangan temuan riset para peneliti apakah visible untuk didorong ke ranah industri.

Untuk meningkatkan value dari sisi ekonomi, ia juga berangan agar banyak peneliti Indonesia mendapatkan royalti dari produk – produk risetnya. Hal ini juga diamini oleh Sudirman dari PT. Biotis Pharmaceuticals Indonesia yang juga setuju dengan pemberian royalti. Untuk itu, ia menekankan, perlunya komitmen antar pihak terutama untuk membangun kerja sama jangka panjang.

Koordinator pada DPRII, Eko Purwito Hidayat, menyampaikan bahwa hasil riset dan inovasi ini akan didorong sampai ke pengguna tentunya dengan melibatkan masyarakat.

”Untuk itu, dalam kesempatan ini, kami harap industri memberi masukan berupa ide – ide baru yang bisa mengembangkan riset tersebut sehingga menciptakan peluang kerja sama,” ujar Donny.

Maka ia berharap, diskusi kali tersebut bisa langsung ditindaklanjuti dengan kolaborasi teknis. Pada akhir acara, dilakukan penandatanganan Surat Pernyataan Minat oleh BRIN dengan pihak industri, yaitu PT Riseta Medica Inovasia dan PT Biotis Pharmaceuticals Indonesia. (ip/log)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.