35 Desa Di Kabupaten Paser Masuk Kategori Rawan Pangan

TB Sihombing

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Holtikultura Kabupaten Paser, Taharudin.

Paser, helloborneo.com – Sedikitnya 35 desa dari 144 desa dan kelurahan di Kabupaten Paser, masuk kategori rawan pangan, kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Holtikultura setempat Taharudin.

“2021 ada 30 desa rawan pangan dan tahun ini (2022) bertambah lima desa alami rawan pangan,” ujar Taharuddin ketika ditemui helloborneo.com di Paser, Selasa.

Desa yang masuk rawan pangan terbagi tiga kategori yakni sangat rentan terdapat empat desa, rentan terbagi di 18 desa, dan agak rentan terdiri 13 desa. Diketahui dari 10 kecamatan di Kabupaten Paser, semuanya memiliki daerah rawan pangan.

“Untuk prioritas sangat rentan ada di Desa Tunas Keladen, Labuang Kalo dan Desa Senipah di Kecamatan Tanjung Harapan, serta di Desa Kepala Telake di Kecamatan Long Kali,” jelasnya.

Ia menyebutkan berbagai upaya dilakukan untuk pengentasan desa rawan pangan, di antaranya mulai memastikan ketersediaan, keterjangkauan dan kemanfaatan pangan itu sendiri.

Indikator wilayah masuk kategori pangan, bukan hanya komoditas ketersedian pangannya yang kurang. Namun beberapa faktor lain, turut mempengaruhi seperti akses jalan, lahannya kurang, daya beli masyarakat, varian kebutuhan pokok, hingga tenaga kesehatan.

Dari berbagai program atau evaluasi yang dilakukan tidak memberikan hasil yang baik, bahkan bertambah dari 30 menjadi 35 desa dan pandemi COVID-19 juga menjadi indikator penilaian.

“Penyebab utamanya juga masa pandemi COVID-19 menjadi masalah bagi masyarakat. Jadi rumah tangga miskin bertambah,” ucapnya.

Kemudian masyarakat yang menikmati air bersih PDAM, serta jaringan listrik dan infrastruktur jalan belum optimal, Taharudin optimistis pertengahan tahun ini terdapat lima sampai tujuh desa yang terlepas dari rawan ketahanan pangan.

Secara bertahap bakal banyak pengerjaan peningkatan fasilitas umum, tentu memberikan dampak positif karena akses lebih mudah.

“Terkait tenaga kesehatan sebetulnya tiap daerah telah tersedia. Cuma karena luas daerahnya juga jadi pertimbangan. Dalam artian jangkauan wilayahnya sangat luas juga salah satu alasan kenapa ada daerah rawan ketahanan pangan,” kata dia.

Kehadiran tenaga kesehatan bisa memberikan edukasi atau pemahaman bagaimana makanan yang baik dengan gizi seimbang, komoditas harus diperhatikan tidak hanya karbohidrat melainkan juga tersedianya protein, lemak dan serat.

Selain mengonsumsi beras, masyarakat secara perlahan dapat pula mengonsumsi makanan pengganti seperti umbi-umbian untuk melepas atau menurunkan angka desa rawan akan ketahanan pangan.

Pada 2019 terdapat 40 desa rawan pangan, kemudian 2021 berkurang menjadi 30 desa dan pada tahun ini (2022) mengalami kenaikan menjadi 35 desa. (bp/hb)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.