Wali Murid SDN 026 PPU Resah, 1 Lebih Sekolah Belum Berfungsi

Edy Suratman Yulianto

SDN 026, Kelurahan Penajam. (Ist)
SDN 026, Kelurahan Penajam. (Ist)

Penajam, helloborneo.com – Pendidikan menjadi sektor yang sangat prioritas menghadapi perpindahan Ibu Kota Nusantara (IKN) di sekitar Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Beberapa sekolah mulai mendapatkan perhatian lebih hingga menelan biaya puluhan miliar rupiah.

Namun ada yang belum bisa dirasakan manfaatnya, seperti Sekolah Dasar Negeri (SDN) 026, Kelurahan Penajam. Setelah memakan biaya puluhan miliar rupiah sejak bulan Mei 2023 lalu, sekolah yang diresmikan pada 9 Maret 2024 lalu belum bisa digunakan untuk proses belajar generasi penerus bangsa asal Kabupaten PPU.

Dampak dari pembangunan yang tak kunjung dimanfaatkan tersebut, lebih dari satu tahun sekitar 300 lebih siswa harus menumpang belajar di sekolah yang cukup jauh. Hal itu berlangsung melenceng dari waktu yang dijanjikan kepada para wali murid.

Ula, seorang wali murid SDN 026 Kelurahan Penajam, mengaku kewalahan mengantar 2 orang anaknya untuk ke SDN 003 Kelurahan Gunung Seteleng. Ditambah awalnya masuk pagi, namun kini sudah setahun lebih harus masuk siang.

“Kasihan harus masuk siang, kalau kita numpang sekolah yang cukup jauh lah, apalagi beda zonasi nenang dan penajam,” ujarnya.

Ia turut memberikan rasa prihatin terhadap wali murid lainya yang memiliki pekerjaan, tak jarang harus mengorbankan waktu untuk mengantar anaknya siang hari. Yang lebih miris menurutnya, saat hujan wali murid sangat kerepotan mengantar anak ke SDN 003 Kelurahan Gunung Seteleng.

“Resiko lebih besar untuk mengantar ke sekolah, apalagi ditambah kalau hari hujan, belum lagi posisi orang tua kerja, bisa enggak sempat antar anak,” ucapnya.

Sedangkan wali murid lainnya, Supianto menjelaskan sangat kewalahan untuk mengantar anaknya ke sekolah. Lantaran harus masuk siang, serta jarak yang cukup jauh dan memakan biaya lebih.

“Jauh betul eh, jelasnya ongkos kita bolak balik ke gunung setelah itu lebih besar padahal sebelumnya saya cuma antar anak pakai sepeda, tapi sekarang harus pakai motor,” ungkapnya.

Ia sangat berharap sekolah yang sudah menggunakan anggaran puluhan miliar rupiah itu bisa digunakan sebagaimana mestinya. Hal itu akan mempermudah proses belajar dan tidak perlu menghabiskan waktu di jalan untuk ke sekolah.

“Kalau kita sih maunya segera digunakan saja itu sekolahan, apalagi sudah diresmikan toh. Ya enggak tau ada masalah apa ko dari maret sampai juli ini belum juga bisa dipakai disitu,” pungkasnya. (log)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.