Mulyono: Area Kerja PT KJM Masuk Kawasan Perkebunan di Kecamatan Babulu

ES Yulianto

Alat berat untuk melakukan pertajmbangan. (Ist)
Alat berat untuk melakukan pertajmbangan. (Ist)

Penajam, helloborneo.com – Lokasi pertambangan di Desa Labangka Barat, Kecamatan Babulu, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) masuk dalam kawasan perkebunan. Hal tersebut tak dibantah oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten PPU.

Area pertambangan yang akan digarap oleh PT Kaltim Jaya Mineral (KJM) diakui oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten PPU, Mulyono bahwa area tersebut peruntunkan perkebunan.

“Kalau menurut saya itu area perkebunan, setau saya itu. Kalau dari penajam kanan jalan,” kata Mulyono.

Namun adanya izin pertambangan yang berada diatas lahan perkebunan, Mulyono mengaku tak mengetahui hal tersebut. Pasalnya pengurusan izin pertambangan bukan kewenangan dinasnya.

“Kita tidak tau keluarannya dari perekonomian atau DPMPTSP,” ungkapnya.

Dalam izin pertambangan tersebut, Dinas Pertanian tidak dilibatkan. Namun Mulyono tak menampik adanya penolakan dari masyarakat sekitar akan aktivitas tersebut. Dirinya pun khawatir dampak limbah tambang batu bara tersebut akan masuk ke area persawahan masyarakat sekitar.

“Tidak ada kordinasi dengan kami. Kemarin yang isu mau nambang ditolak masyarakat itu takutnya ke arah pertanian limbahnya,” latanya.

Mulyono menjelaskan bahwa lahan perkebunan tersebut sebagian dianggap produktif. Meski demikian Mulyono tidak mau ambil risiko dan tergantung dari masyarakat sekitar.

“Itu kebun masyarakat sebagian banyak yang produktif. Mau tidak mau, kita konfirmasi dulu, tergantung dari masyarkat mau atau tidak diganti rugi. Ya sebetulnya lokasi pertambangan itu wilayah masuk perkebunan semua,” jelasnya.

Mulyono khawatir bila limbah tambang batu bara itu akan mencemari sungai di Kecamatan Babulu. Pasalnya masyarakat di Kecamatan Babulu bercocok tanam dengan mengandalkan air sungai sehingga dikhawatirkan mengganggu produktifitas pertanian.

“Kalau aktivitas itu yang penting tidak lari ke pertanian tidak jadi masalah, takutnya lari kepertanian, dalam artian limbah banyak itu musim hujan larinya ke sungai, mau tidak mau otomatis ke areal persawahan dibutuhkan petani itu air yang bagus bukan tercemar itu,” pungkasnya. (log)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses