Dosen Muda Fakultas Hukum Universitas Bengkulu Berikan Pemahaman Bahaya Laten Stunting

Dosen Muda Fakultas Hukum Universitas Bengkulu. (Ist)
Dosen Muda Fakultas Hukum Universitas Bengkulu. (Ist)

Bengkulu, helloborneo.com – Kepedulian Dosen Hukum sejatinya tidak hanya bertalian dengan Pengembangan dan Pendidikan Hukum namun juga menjalar tentang pentingnya hak atas gizi yang baik. Nutrisi anak menjadi salah satu konsen dosen muda, mengingat anak-anak adalah pemimpin masa depan.

Anak adalah masa depan bangsa, asset paling penting yang akan menentukan masa depan Indonesia. Bahkan saking pentingnya Kesehatan dan gizi anak balita PBB melalui WHO memasukan isu stunting sebagai salah satu yang perlu diperangi negara-negara dunia ketiga dan berkembang.

Mendukung kegiatan tersebut kementerian Kesehatan dan kementerian keuangan sudah menuangkan berbagai kebijakan dan keuangan untuk menghindari bayi Indonesia stunting. Meski usaha itu mengalami naik dan turun namun ikhtiar harus terus dilakukan kegiatan ini adalah bagian kecil dari ikhtiar untuk menumpas isu stunting. 

Berangkat dari semangat mencerdaskan kehidupan bangsa dan kepedulian atas pemenuhan hak atas Kesehatan khususnya gizi yang baik untuk anak-anak maka pengabdian yang diketuai Pipi Susanti, SH MH ini dilaksanakan.

Kegiatan ini dibantu dosen muda lainnya yaitu Ari Wirya Dinata, Ari Elcaputera, Whulandari, Arini Azka Muthia dan Ilham Kurniawan Ardi. Kegiatan ini ditujukan kepada Ibu-ibu dan calon ibu-ibu di desa Tapak Gedung. 

Berdasarkan data dari Kepala Desa Tapak Gedung disebutkan bahwa sejauh ini desa terbebas dari kasus stunting berdasarkan hasil laporan Puskemas setempat. Meskipun demikian Kesehatan dan pemenuhan gizi tetap harus menjadi fokus setiap orang tua.

Pipi Susanti menerangkan Ibu-ibu hamil harus menyadari bahwa gizi anak-anak bukan dimulai dari awal kelahiran namun pada masa kehamilan hingga 2 tahun berjalan. Oleh karenanya ibu-ibu harus memperhatikan asupan gizi dalam makanan. Sebisa mungkin memakan makanan yang 4 sehat 5 sempurna secara proporsional yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan susu. Dalam masa pertumbuhan sebisa mungkin memberikan makanan yang diversifikasi dan memilih dari bahan yang memiliki gizi.

“Selain memilih makanan yang baik dan sehat cara pengolahan dan menggorengnya perlu juga diperhatikan agar tidak menghilangkan gizi yang terkandung didalamnya. Makanan sehat tidak selalu mahal dapat diupayakan dari bahan-bahan yang ada disekitar kita,” jelas Pipi.

Apalagi menurut Pipi Susanti menyebutkan bahwa Desa Tapak Gedung ini memiliki bentang alam yang subur dan kaya akan sumber bumi dan budidaya ikan sehingga seluruh itu kalau dimanfaatkan dan diolah secara baik pasti akan berdampak bagus.

Whulandari menambahkan untuk dapat mendukung para ibu-ibu dapat memenuhi gizi bagi balita maka berdasarkan pengalamannya dibutuhkan juga peran para bapak-bapak untuk menyenangkan dan membantu secara materil dan immaterial kepada ibu-ibu yang sedang menyapih atau membesarkan buah hati tercinta.

“Kerjasama dalam keluarga kecil (co-parenting) tersebut akan memberikan Kesehatan baik badaniah maupun rohaniah bagi balita. Ayah harus hadir dan memainkan perannya. Tidak semata mencari nafkah tetapi juga aktif mempelajari tentang gizi baik baik balita maupun sang Ibu,” kata Whulandari

Kerjasama kedua-duanya dapat menghindari bahaya stunting. Jamak diketahui tambah Whulan bahwa bahaya stunting tidak hanya kerdil secara fisik namun lebih menakutkan kekerdilan otak yang akan berpengaruh kepada cara berpikir anak dalam  menyelesaikan permasalahan. Bahayannya lagi ini dapat mempengaruhi generasi berikutnya. Itu sebabnya kesadaran publik tentang hal ini perlu senantiasa dipupuk agar anak sehat, Indonesia kuat sebutnya.

Pengabdian ini ditutup dengan sesi tanya jawab dan foto bersama dengan seluruh Ibu-Ibu yang hadir. Berdasarkan pendapat dari salah satu peserta merasakan senang sekali dengan sesi pembekalan gizi ini meski menurut mereka waktu sesi tanya jawab agar terbatas karena persoalan waktu yang penyelenggaraan yang mepet dengan aktivitas jumat. Semoga ke depan kegiatan yang sama dapat terus dilakukan dan dikembangkan pungkas Ibu tersebut saat ditanya. (log)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses