Bagus Purwa

Penajam, helloborneo.com – Sekretaris Daerah Kabupaten Penajam Paser Utara, Tohar menyebutkan tindak kekerasan terhadap anak di daerah yang akrab disapa Benuo Taka itu harus mendapat perhatian dari semua pihak.
Sejumlah permasalahan yang menjadi pemicu tindakan kekerasan anak harus di atasi, kata Tohar di Penajam, guna mencegah terjadi kekerasan terhadap anak.
“Kekerasan terhadap anak harus segera di atasi dengan langkah nyata yang perlu dukungan pemangku kepentingan,” tambahnya.
Dampak kekerasan terhadap anak berpotensi mengganggu perkembangan mental dan kejiwaan, bakal meningkatkan hambatan dalam proses mewujudkan sumber daya manusia (SDM) yang tangguh.
Kekerasan terhadap anak memiliki dampak yang signifikan dalam jangka panjang, menurut Jon Kenedi, karena korban merupakan generasi penerus bangsa.
Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Kabupaten Penajam Paser Utara, pada 2023 mencatat 31 orang anak menjadi korban kekerasan dan sepanjang 2024 terdata 23 orang anak-anak menjadi korban kekerasan.
“Para pemangku kepentingan diharapkan bisa ambil langkah yang tepat secara bersama-sama cegah kekerasan terhadap anak,” ujarnya.
Langkah preventif mencegah kekerasan terhadap anak perlu dilakukan untuk mewujudkan generasi penerus bangsa yang berdaya saing dan tangguh.
“Dinas terkait juga harus mencegah terjadinya perundungan (bullying) terutama di lingkungan sekolah,” ucapnya.
Dinas terkait agar mengoptimalkan kegiatan yang dapat mencegah terjadinya perundungan mulai dari sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah pertama (SMP), ia menimpali lagi, untuk wujudkan generasi emas.
Selain Dinas P3AP2KB memprogramkan pencegahan perundungan di lingkungan sekolah, Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dikpora) juga mengajak wali murid ikut aktif meminimalkan terjadinya perundungan di kalangan peserta didik. (adv/kmf/log)
















