Syahrudin M Noor Desak Bupati Segera Isi Jabatan Strategis yang Kosong

Edy Suratman Yulianto

Wakil Ketua I DPRD PPU, Syahrudin M Noor. (Ist)
Wakil Ketua I DPRD PPU, Syahrudin M Noor. (Ist)

Penajam, helloborneo.com – Isu mutasi jabatan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) kembali mencuat. Wakil Ketua I DPRD PPU, Syahrudin M Noor, menilai sudah saatnya Bupati mengambil langkah tegas untuk mengisi berbagai posisi strategis yang masih kosong demi mempercepat kinerja pemerintahan.

Syahrudin mengingatkan, aturan memberi batas waktu enam bulan sejak kepala daerah dilantik untuk melakukan perombakan atau penyegaran birokrasi.

“Kalau sudah enam bulan bupati menjabat, dia bisa melakukan peremajaan atau pengaturan struktur organisasi pemerintahan. Itu memang sudah diatur,” ujarnya.

Menurutnya, lambatnya pengisian jabatan berimplikasi langsung pada terhambatnya pelaksanaan program pembangunan dan pelayanan publik.

“Banyak pos-pos yang kosong dan itu harus segera diisi supaya bupati bisa membenahi dan berlari kencang. Kita tidak boleh tertinggal terlalu jauh,” tegasnya.

Syahrudin menekankan, pengisian jabatan bukan sekadar menempatkan orang di kursi yang kosong. Setiap pejabat harus memiliki kemampuan nyata untuk mendorong pencapaian target pembangunan, terutama yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).

“Kenapa harus dibenahi? Karena semua kinerja untuk mencapai RPJMD bergantung pada kepala OPD. Tinggal bagaimana bupati berkomitmen memilih mereka, apakah mampu atau tidak,” ungkapnya.

Ia juga memberi peringatan agar proses pengisian jabatan mengedepankan kualitas dan integritas, bukan kepentingan politik atau permintaan pribadi.

“Jangan hanya diminta jabatan tetapi kinerjanya nihil. Tidak mampu, tidak punya inovasi, tidak punya prestasi. Hanya jabatan yang dikejar,” katanya.

Menurutnya pejabat eselon dua seharusnya tidak sekadar menggugurkan kewajiban. Mereka harus menjadi sosok pekerja keras, memiliki kapasitas manajerial, serta kompetensi yang sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya.

“Mau duduk di eselon dua, harus orang yang pekerja keras, tidak mengejar waktu, dan kompeten di bidangnya. Bukan sekadar formalitas atau jabatan prestise,” pungkasnya. (adv/log)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses