
Yogyakarta, helloborneo.com – Dalam banyak mitologi kuno, peradaban berawal dari sebuah api. Prometheus mencurinya dari Olympus untuk manusia sebagai simbol pengetahuan, imajinasi, dan keberanian serta kemungkinan baru. Akan tetapi, kisah lalu juga menengahkan bahwa setiap api selalu menghadapi godaan yang sama, yaitu mulai berhenti bergerak dan berubah menjadi sesuatu yang dijaga demi dirinya sendiri.
Dari refleksi itu, pameran ini melihat ruang bukan sekadar wadah bagi karya, tetap tempat pertemuan. Ia akan hidup ketika memberi kesempatan bagi semua pengalaman, ide, dan tafsir saling bertemu. Dalam pengertian tersebut, seni tidak hadir menawarkan jawaban final, melainkan menjaga pertanyaan tetap hidup.
Dengan pertemuan bahasa visual street art, seni interior, pameran ini mengajak kita melihat kembali hubungan antara manusia dan ruang yang mereka huni. Dinding tidak lagi dipahami sebagai batas semata, melainkan sebagai medium menyimpan ingatan, percakapan, dan kemungkinan-kemungkinan baru.
Sebagaimana Janus, dewa gerbang dalam mitologi Romawi, memandang dua arah sekaligus, pameran ini menempatkan dirinya sebagai sebuah ambang: ruang yang menghubungkan masa lalu dan masa depan, ruang publik dan ruang privat, pengalaman personal dan percakapan kolektif yang bertemu. Di saat yang sama, juga mengingatkan setiap ruang seni selalu menghadapi risiko yang sama sebagaimana kisah Ikarus dan Menara Babel: ketika keberhasilan berubah menjadi tujuan, dan ketika satu suara mulai merasa cukup mewakili semuanya.
Pameran ini bukan tentang membangun menara yang semakin tinggi, melainkan tentang menjaga api tetap berpindah tangan. Tentang merawat ruang tetap terbuka bagi perbedaan, pertanyaan, dan kemungkinan yang belum selesai dirumuskan.
Akhirnya, jalan, mural, galeri, festival, maupun rumah hanyalah medium. Yang memberi mereka kehidupan adalah manusia untuk terus mengisinya dengan makna. Maka pertanyaan yang diajukan pameran ini sederhana namun mendasar:
Apakah kita masih menjaga api, atau hanya menjaga menara?, menara ini bisa diartikan singgasana, patron atau apapun yang menjadi pemaknaan mata ketika melihat pameran.
Kami mengundang publik untuk ikut hadir, mengalami dan menyelami, serta menjadi bagian dari percakapan pameran ini.
Streets Art Exbition
“Where The Streets Have No Name”
LOVEHATELOVE, GETLUPS, MUCK, TRIANTO KOTREK, MASGAGA
25 Juni – 30 Agustus 2026
Lantai 1 Gedung Paviliun, JNM Bloc
Jogja National Museum Gallery
Opening
Kamis, 25 Juni 2026
16.00 WIB
Officiated By: KPH Wironegoro
Writer By: Lovi Gustian
Performance By:
Rarawk
Jerin
Media Partner
JAW
Support By:
JNM Bloc
Jogja National Museum
GF
Kokomo Hostel
Mini Gitar Indonesia
Till Drop.(*/log)

















