Karena Program Budaya Baca, SD ini Juara Utama Lomba Literasi Se Makassar

Gusti

 

Program Budaya Baca, siswa ini peroleh penghargaan Balai Bahasa Sulsel. (Ist)

Alphian Sahrudin, Guru SDN Kompleks IKIP I Makassar, sedang berfoto dengan para juara lomba. (Ist)

Makassar, helloborneo.com –  Dua sekolah Binaan USAID PRIORITAS menjadi Juara utama Lomba Literasi tingkat SD/MI se Kota Makassar, yang dilaksanakan oleh Balai Bahasa Sulawesi Selatan, yang Bertajuk “Jelajahi Duniamu Dengan Berliterasi”.

Juara I diperoleh SD Inpres Gunung Sari 1 atas nama  Aura Nazahiah Putri Erin, siswa Kelas VI A, Juara 2 dari SD Negeri Kompleks IKIP I Makassar atas nama Syafila Firdha Nafeesa kelas V B. Mereka menyingkirkan 150 Peserta utusan 75 sekolah Negeri/Inpres/Swasta di kota Makassar (28/9) lalu.

Dalam lomba tersebut, para peserta diminta untuk merangkai cerita anak dari empat buah gambar acak. Kesesuaian cerita dengan gambar, imajinasi dan keteraturan bahasa menjadi kriteria utama penilaian. Para juara mendapatkan sertifikat dan uang pembinaan.

Keberhasilan menjadi juara bagi kedua sekolah itu, menurut Alphian Sahruddin, guru kelas V B SDN Kompleks IKIP I Makassar dan guru pembimbing Syafila, tak lepas dari program budaya baca yang konsisten diterapkan di sekolah tersebut.

“Semenjak dikenalkan USAID PRIORITAS, kami menginisasi program kebiasaan membaca dan menceritakan hasil bacaan selama kurang lebih 30 menit sebelum pelajaran dimulai. Setiap pagi dua sampai tiga anak maju ke depan untuk menceritakan hasil bacaannya,” ujar Alphian.

Tiap sabtu di sekolah tersebut juga ada alokasi khusus dua jam untuk pengembangan bakat literasi.

Hal yang sama dikemukakan Rosmala, guru kelas Aura Nazahiah Putri, siswa yang memperoleh juara satu. “Program budaya baca yang hampir sama juga konsisten diterapkan di sekolah kami.  Dengan program tersebut, siswa-siswi sekarang menjadi lebih pandai berkomunikasi, kaya imajinasi, mudah menyusun kata dan bernalar,” ujar Rosmala.

Gerakan literasi banyak dilakukan oleh sekolah-sekolah binaan USAID PRIORITAS. Hal ini dilakukan setidaknya untuk ikut mengurangi minimnya minat baca penduduk Indonesia.

Menurut penelitian Central Connecticut University tahun 2016, Indonesia berada di urutan 60 dari 61 negara yang disurvei tingkat literasinya. Penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa semakin rendah literasi suatu negara, semakin warganya tidak toleran, suka kekerasan, dan suka melanggar HAM. (rol)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.