Hadi Sebut Masjid Nurul Mu’Minin Milik Pemprov Jadi Penguat Makna Keberagaman di Samarinda

Poto Masjid Nurul Mu’Minin Milik Pemprov Kaltim.

Samarinda, helloborneo.com – Bertepatan dengan tahun baru Islam 1 Muharram 1442 Hijriah, Pemprov Kaltim meresmikan mesjid Nurul Mu’Minin yang dibangun di eks Lapangan Kinibalu, Samarinda.

Peresmian mesjid ini sempat tertunda dua kali. Yakni, pada 20 Maret dan 24 Juli 2020. Penyebab utamanya, karena pandemi Covid-19 yang baru melanda Kaltim.

Wakil Gubernur Kaltim, Hadi Mulyadi menilai pembangunan masjid yang didanai APBD Kaltim ini syarat dengan pesan positif. Pertama, simbol kemajuan Kaltim dan kedua penguat makna keberagaman di Samarinda. Mengingat, lokasi pendirian masjid ini berdekatan dengan fasilitas dan rumah ibadah pemeluk agama lain.

Beberapa meter dari masjid yang berlokasi di Jalan Semeru, Samarinda itu, berdiri bangunan Sekretariat Musyawarah Pelayanan Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (MUPEL-GPIB 2 Kaltim) dan TK Immanuel Samarinda. Sementara, kurang lebih 500 meter dari bangunan masjid itu berdiri megah Gereja Katedral Santa Maria Penolong Abadi. Sepintas serupa dengan Gereja Katedral dan Masjid Istiqlal di Jakarta yang sudah rukun bertetangga selama 40 tahun terakhir.

“Masjid Nurul Mu’minin ini menjadi simbol keberagaman sekaligus pemersatu umat beragama,” kata Hadi Mulyadi di sela peresmian, Kamis (20/8/2020).

Pemprov Kaltim telah mengalokasikan subsidi operasional di antaranya, air dan listrik. Meski demikian, Wagub berpesan agar pengelola masjid merawat dan memperbanyak pohon perindang. Pemeliharaan konstruksi masih jadi tanggung jawab kontraktor pelaksana hingga akhir Desember 2020.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Perumahan Rakyat Kaltim, M Taufik Fauzi, mengatakan perencanaan pembangunan masjid di lingkungan Gubernuran Kaltim ini dimulai tahun 2017. Setahun setelahnya, pembangunan awal dikerjakan hingga rampung awal tahun 2020.

Dua kontraktor terlibat dalam proses pembangunan masjid senilai Rp 83,3 miliar ini. PT Bangun Cipta Kontraktor mengerjakan tahap awal dan PT Jaya Kedaton di bagian akhir. Bangunan 3 lantai seluas 5 ribu meter persegi ini berdiri di lahan seluas 16.281 meter persegi. Mampu menampung maksimal 3.500 jemaah. Dilengkapi fasilitas parkir yang mampu membuat 150 kendaraan roda empat dan 400 unit kendaraan roda dua.

Secara umum, desain masjid terinspirasi dari rumah ibadah muslim di timur tengah. Ini tampak dari desain kubah besar dengan bagian tengah bangunan seperti lazim ditemui di Dubai, ibu kota Uni Emirat Arab. Di bagian dalam kubah dipenuhi ukiran bercat emas. Kubah berpenutup almunium ini diapit empat menara di tiap sisinya.

“Ini hasil masukan dari beberapa tokoh Kaltim. Desain itu yang kita tetapkan,” kata Fauzi.

Dalam kesempatan itu, Wakil Gubernur Kaltim, Hadi Mulyadi menitipkan terima kasih pada kemantan Gubernur Kaltim, Awang Faroek Ishak. Sebab pada era kepemimpinan Faroek rencana pembangunan masjid ini digagas dan mulai dikerjakan. Walaupun tak dapat hadir karena masih bertugas di Jakarta, anggota Komisi VII DPR RI tersebut dikabarkan menyumbang 2 ribu eksemplar buku bacaan kepada perpustakaan Masjid Nurul Mu’minin.

Ketua Takmir Masjid Nurul Mu’minin, Fathul Halim menjelaskan bantuan lain juga berdatangan. Di antaranya, 10 kotak amal dan dua jam kayu seukuran pria dewasa dari Hadi Mulyadi. Tak ketinggalan sumbangan potongan kain kiswah yang biasa digunakan menutupi Ka’bah di Makkah. Kain hitam bermotif tulisan arab berwarna emas ini biasa diganti setiap tahun pada tanggal 9 Dzulhijjah bertepatan ketika perjalanan ke Bukit Arrafah pada musim haji.

“Ini pemberian dari salah satu tokoh di Kaltim. Untuk keaslian, informasinya diberikan dari Arab Saudi langsung. Katanya sudah 20 tahun disimpan,” tutup Fathul. (tan/hb)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses