
Samarinda, helloborneo.com – Tidak ada yang istimewa dari menjual tanaman hias bernama janda bolong kecuali harga yang selangit. Janda bolong dijual mulai belasan juta, puluhan juta, hingga yang tidak masuk akal sekalipun, ratusan juta rupiah. Akademikus ilmu pemasaran menduga ada fenomena monkey business di baliknya.
Harga jual janda bolong yang baru-baru ini menembus langit ketujuh adalah sebuah keanehan. Kecuali bolongan di daun yang katanya indah, tanaman hias ini biasa-biasa saja jika dilihat dari sudut pandang ekonomi. Janda bolong mudah dibudidayakan sehingga tidak perlu biaya besar untuk merawatnya. Tanaman ini juga tidak berstatus langka karena banyak yang memeliharanya.
Janda bolong bukanlah produk yang memerlukan biaya produksi besar apalagi hingga puluhan juta rupiah. Ia juga bukan tumbuhan langka. Tidak pula sedang dicari-cari karena kebutuhan yang mendesak. Dalam teori pemasaran yang lebih mendalam, sebagaimana disebutkan bapaknya ilmu pemasaran, Philip Kotler, harga berhubungan erat dengan nilai dan manfaat. Harga jual janda bolong, faktanya, tidak mengikuti konsep tersebut. Nilai produk yang konsumen dapatkan dari janda bolong tidak sesuai dengan puluhan juta rupiah yang dikeluarkan pembeli.
“Sesuai teori Kotler dalam konsep bauran pemasaran (produk, harga, distribusi, dan promosi), janda bolong ini sebenarnya menggunakan promosi untuk meningkatkan harga jual,” demikian Dr Jusuf Kuleh, akademikus ilmu pemasaran dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Mulawarman, Samarinda, Senin (5/10/2020).
Orang-orang yang berkepentingan di bisnis ini memakai strategi komunikasi terpadu atau integrated communication lewat isu ‘lebih cepat kaya.’ Tidak ada yang keliru dari integrated communication. Apple, sebagai contoh, berhasil menggunakan komunikasi terpadu ini untuk meningkatkan nilai produk.
Tentu strategi komunikasi pemasaran Apple berbeda dengan isu ‘lebih cepat kaya’ ala janda bolong. Kuleh mengatakan, isu janda bolong menyeruak di tengah masyarakat yang mengalami tekanan ekonomi dan psikologi pada masa pandemi. Pada masa inilah, banyak orang menyalurkan hobi merawat tanaman. Harga fenomenal janda bolong pun tidak masuk akal. Berbeda dengan iPhone yang walaupun mahal, tidak jauh-jauh dari harga ponsel-ponsel Android.
Memang benar bahwa ada beberapa produk berharga tinggi yang tidak sebanding dengan nilainya. Lukisan, perangko, atau mobil antik, adalah salah tiganya. Barang-barang koleksi seperti itu disebut produk yang dikecualikan. Harganya tinggi karena diburu kolektor. Para pembelinya adalah golongan tertentu.
Yang membedakan produk-produk koleksi di atas dengan janda bolong adalah motif dalam membeli. Kolektor membeli produk karena mencintai dan menyenangi barang tersebut. Mereka tidak lagi memikirkan uang saat membelinya. Sementara janda bolong dibeli bukan karena benar-benar dicintai atau disukai. Orang-orang memburunya karena motif ingin mendapatkan uang yang lebih besar ketika dijual nanti. Motif investasi.
“Fenomena monkey business sebagai praktik kotor pemasaran terindikasi dari janda bolong ini,” tegas Dr Kuleh.
Indonesia sudah punya banyak contoh fenomena monkey business. Menurut Kuleh yang mengajar mata kuliah ilmu pemasaran di Program Studi Magister Manajemen, gelombang cinta (Anthurium), batu akik, ikan arwana dan louhan, hingga burung love bird adalah sederet contoh nyata praktik bisnis monyet.
Menurut kamus Merriam Webster, monkey business adalah tindakan yang menipu atau menyimpang. Fenomena ini dikenal dengan kisah perburuan monyet yang telah diceritakan lewat beragam versi.
Syahdan, di sebuah desa, seorang pengusaha kaya datang dan meminta penduduk mencari monyet. Seekor monyet dihargai Rp 50 ribu. Warga yang antusias karena menganggap monyet adalah hama mulai mengadakan perburuan. Penduduk berhasil menangkap monyet dalam jumlah besar sehingga yang tersisa sedikit. Karena semakin langka, pengusaha tadi menaikkan harga seekor monyet menjadi Rp 100 ribu.
Warga semakin kesulitan mencari monyet dan pengusaha tadi menawarkan Rp 500 ribu per ekor. Selanjutnya, pengusaha tadi berkata akan pergi ke tempat lain karena suatu bisnis.
Urusan perburuan monyet diserahkan kepada asistennya. Setelah pengusaha itu pergi, si asisten mengatakan kepada warga ada monyet yang terkurung dalam jumlah besar. Asisten tersebut menjual seekor monyet Rp 350 ribu. Warga nanti bisa menjual kepada pengusaha dengan harga Rp 500 ribu per ekor. (/sop/hb)
















