Dorong Kemandirian Ekonomi Pascatambang, BUMA Serahkan Bantuan Untuk Wujudkan Kampung Cabai di Sambakungan

Foto Istimewa.

Berau, helloborneo.com – Kelompok Tani Kampung Sambakungan, Kecamatan Gunung Tabur, Berau menerima sejumlah dukungan dari program tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR) PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA) Site Lati.

BUMA selaku kontraktor PT Berau Coal memberikan bantuan beragam, seperti sebuah traktor tangan (hand tractor), bibit cabai, pelatihan petani, pendampingan, hingga pemberdayaan pertanian. Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan, tujuan BUMA mendampingi masyarakat adalah menyiapkan perekonomian pascatambang.

Lewat bantuan tersebut, perusahaan berharap perekonomian masyarakat sekitar lingkar tambang bisa mandiri di sektor pertanian. Termasuk pula, di tengah masa-masa sukar saat kelesuan melanda sektor pertambangan dan pandemi Covid-19.

“Batu bara adalah sumber daya alam yang tak dapat diperbarui. Suatu saat, pasti habis. Ditambah lagi, saat ini kondisi begitu sulit. Produksi menurun karena harga batu bara dunia kurang baik,” terang Manager BUMA Site Lati, Bayu Luh Triono, di sela-sela penyerahan bantuan, Selasa (13/10/2020).

Bayu menegaskan BUMA sangat berkomitmen dalam mendorong kemandirian ekonomi pascatambang. Perusahaan tidak ingin masyarakat sekitar kehilangan mata pencaharian begitu perusahaan selesai beroperasi.
Program ini dimulai di tengah kelesuan sektor pertambangan batu bara dan pandemi Covid-19. Di banyak tempat, sektor pertanian sudah terbukti bisa diandalkan ketika kegiatan industri yang lain menurun. Program CSR di kampung ini pun melewati perencanaan yang panjang.

“Alhamdulillah, lewat perencanaan pada tahun sebelumnya, kami bisa merealisasikan program CSR ini. Merintis program ini memang tak mudah karena harus melibatkan berbagai pihak,” jelas Bayu.

Untuk mewujudkan kemandirian ekonomi pascatambang jelas memerlukan proses panjang. Namun demikian, bukan hal yang mustahil. Kelompok tani di Sambakungan adalah contohnya. Kelompok dampingan BUMA ini sebagian anggotanya adalah pekerja BUMA yang terdampak kebijakan pengurangan karyawan.

Dukungan program CSR BUMA juga tidak setengah-setengah. Prosesnya runut dari awal hingga akhir. Traktor tangan, contohnya, memudahkan petani menggarap tanah sehingga produktivitas bisa meningkat. Setelah lahan siap, petani akan menanam.

Bibitnya dibantu perusahaan yaitu cabai. Setelah itu, kelompok tani didampingi untuk merawat tanaman hingga memanen. Pendampingan tersebut terdiri dari pelatihan hingga pemberdayaan pertanian. Perusahaan juga menjadi fasilitator untuk memasarkan hasil panen.

“Permasalahan pemasaran yang dihadapi petani saat ini adalah stabilitas harga. Ke depan, kami koordinasikan hal itu dengan baik,” kata Bayu. Konsep yang perusahaan bawa adalah dari masyarakat untuk masyarakat. Hasil panen dari lahan pertanian masyarakat dibeli oleh masyarakat pula.

Melalui program CSR yang menyeluruh bagi kelompok tani ini, Bayu berharap, masyarakat dan kampung lebih mandiri. Bahkan, Kampung Sambakungan diharapkan lebih maju dari sektor pertanian.

“Kami berfokus kepada sektor pertanian karena potensinya sangat besar. Program ini juga didampingi oleh dinas pertanian,” terangnya.
Pemberian alat pendukung pertanian dari BUMA disaksikan perwakilan Dinas Pertanian Berau, general manager CSR PT Berau Coal, Kecamatan Gunung Tabur, serta Pemerintah Kampung Sambakungan.

Sejumlah petani yang tergabung dalam kelompok tani juga hadir. Diantaranya adalah Suyano seorang petani Kampung Sambakungan yang menaruh harapan besar dari bantuan ini. Ia memiliki cita-cita agar Sambakungan bisa menjadi kampung cabai. Para petani menilai, lahan di Kampung Sambakungan cocok untuk budi daya cabai. Akan tetapi, masih banyak masalah yang dihadapi. Penjualan hasil panen, misalnya, selama ini belum ada tempat untuk memasarkan. Di samping itu, petani kesulitan saat menyiram karena sebagian besar tanah di kampung tersebut miring.

“Kampung tetangga, sudah dikenal dengan kampung jagung. Sambakungan bisa berfokus kepada komoditas cabai. Meskipun sulit dan banyak kendala, insya Allah, kami tetap berjuang,” tandas Suyono. (/sop/hb)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.