
Balikpapan, helloborneo.com – Angka partisipasi pemilih pada Pilkada mencapai 60%, jumlah tersebut tidak jauh berbeda dengan angka partisipasi 5 tahun lalu.
Kemungkinan terjadinya penurunan angka pertisipasi disebabkan oleh ketakutan warga ke TPS ditengah pandemi Covid 19 serta kemungkinan bisa saja hanya 1 paslon tunggal yang maju, sehingga masyarakat tidak memiliki pilihan.
“Partisipasi pemilih pada Pilkada 9 Desember hanya 60%, kemungkinan dikarenakan adanya satu pasangan calon saja,” kata Walikota Balikpapan Rizal Effendi, Sabtu (12/12/2020)
Rizal menjelaskan, angka partisipasi warga di Pilkada mencapai 60% ini dinilai merugikan masyarakat Balikpapan. Karena, dari segi pembiayaan Pilkada di kota Balikpapan mencapai Rp83 miliar, apabila di kalkulasikan dari jumlah pemilih 443 ribu pemilih maka dari segi pembiayaan warga per orang mencapai Rp187 ribu.
Sehingga dengan angka partisipasi mencapai 60% atau 200 ribu pemilih yang tidak memilih, maka hal ini sangat merugikan pemerintah kota.
“Pilkada di kota Balikpapan berjalan lancar dan aman, tidak ada kendala apapun. Rata –rata kalau dihitung biaya Pilkada untuk 1 warga mencapai Rp 187 ribu, apabila dari Rp83 miliardi bagi untuk 443 ribu pemilih di Balikpapan,” jelasnya. (adv/sop/hb)

















