Petani Lada Menjerit, Harga Lada Anjlok Capai 70 Persen

Foto Erwin, salah satu petani lada di Kampung Merancang Ilir, Kecamatan Gunung Tabur.

Berau, helloborneo.com – Terpuruknya harga lada di pasaran menyebakan para petani lada di Kampung Merancang Ilir, Kecamatan Gunung Tabur, Berau menuntu dinas terkait memberikan solusi dari permasalah tersebut.

Erwin, salah seorang petani lada di Kampung Merancang Ilir, Kecamatan Gunung Tabur, yang ditemui pada Jumat (18/6/2021) menuturkan, harga lada saat ini turun mencapai 70 persen. Jika sebelumnya harga mencapai Rp 160 ribu, kini hanya Rp 45 hingga Rp 40 ribu per Kilogram (Kg).

“Sudah beberapa lama ini anjlok,” ucapnya.

Dijelaskan Erwin, penjualan biasa dilakukan langsung ke pengepul yang datang ke kampung mereka. Sehingga, harga yang ditentukan oleh pengepul tidak bisa ditolak oleh para petani. Jika petani menolak, tentu resikonya tidak akan dibeli oleh pengepul.

“Pengepul yang ambil langsung ke petani dan langsung membawa harga yang sudah ditentukan, kalaupun kami menjual dengan harga yang lebih tinggi, ya tidak mau beli,” sambungnya.

Dijelaskan Erwin, harga lada sebenarnya mulai turun sejak tahun 2016 lalu, lima tahun berjalan, masyarakat yang menggantungkan hidupnya di perkebunan lada tersebut, hanya bisa pasrah melihat harga yang terus mengalami penurunan. Tidak sedikit warga yang terpaksa menjual ladangnya untuk mengganti profesi lain.

“Pertama turun pada tahun 2016, berlanjut di tahun 2017 menjadi Rp 80 ribu, penurunan terus berlanjut hingga saat ini,” tuturnya.

Ia menambahkan, mayoritas penduduk Kampung Merancang Ilir bermata pencaharian sebagai petani lada. Diakuinya, lada merupakan sumber penghasilan utama bagi masyarakat sejak pertama mendiami kampung tersebut.

“Sudah dari lama masyarakat sini jadi petani lada, disusul padi. Kalau yang menjadi nelayan hanya sedikit,” ucapnya.

Ia berharap agar pemerintah daerah melalui dinas terkait dapat membantu untuk menemukan solusi terkait permasalahan yang dialami oleh warga. Sebab lada merupakan salah satu dari komoditi hasil kebun utama yang dimiliki oleh Kabupaten Berau.

“Semoga saja Bupati bisa membantu, kan kami disini sebagai masyarakat Berau juga berhak,” tutupnya. (nr/sop/hb)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.