PT. KHE Bantah Proyek PLTA Kayan Mandek

Foto Istimewa.

Bulungan, helloborneo.com – PT. Kayan Hidro Energi (KHE) membantah bahwa pembangunan proyek strategis nasional berupa Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Kayan nihil. Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Operasional PT.KHE, Khaeroni selaku kontraktor yang bertanggung jawab atas proyek tersebut.

Dikatakan oleh Khaeroni bahwa beberapa pengerjaan PLTA Kayan terus berprogres, namun saat ini sekitar 6 orang pekerjanya terkonfirmasi covid-19. Oleh sebab itu, pihak kecamatan melarang pengerjaan proyek bernilai ratusan triliun tersebut.

“Bukan tidak ada progres, di lapangan kami tidak diperbolehkan bekerja. Karena ada anggota yang positif covid. Dari pihak kecamatan sendiri, tidak memperbolehkan dan harus isolasi mandiri (Isoman). Semua anggota tidak diperbolehkan bekerja hingga masa isoman berakhir,” ungkapnya melalui sambungan seluler, Selasa (24/8/2021).

Khaeroni menjelaskan bahwa beberapa bangunan pendukung untuk PLTA Kayan sebagian telah selesai dan sedang berproses.

“Terkait beberapa infrastruktur, dari konsultan meminta ada penambahan CCTV dan pagar. Untuk gudang dan tembok sudah selesai begitu juga penahan tanggul. Tinggal hydran, pagar serta pintu utama tanggul. Kemudian menara dan beberapa lainnya. Kalau pos dan lainnya sudah selesai,” jelasnya.

Sebelumnya, perkembangan pembangunan PLTA Kayan dinilai nihil oleh pemerintah setempat. Saat melakukan kunjungan kerja, pada 20 – 22 Agustus 2021 lalu, Bupati Bulungan, Syarwani meninjau perbatasan Bulungan – Malinau di sungai Bahau, sekaligus ingin melihat langsung perkembangan dari pembangunan PSN PLTA Kayan. Dari hasil tinjauan tersebut Syarwani mengaku tak melihat pengerjaan ataupun pembangunan PLTA Kayan.

“Kemarin saya konfirmasi kepala Desa di Desa Long Lejuh yang bagian akan direlokasi lahannya. Kita pastikan actionnya di lapangan, saya pastikan itu tidak ada, tidak saya pungkiri, apa yang saya lihat di lapangan progresnya belum ada”, kata Syarwani.

Ia menegaskan mega proyek PLTA berkapasitas 9000 Megawatt (Mw) ditargetkan rampung pada 2025 nanti. Namun melihat progres di lapangan, Syarwani menginginkan pembangunan PLTA harus dipercepat.

“Kalau ada target 2025 harus beroperasi, kita harapkan ada langkah-langkah untuk mempercepat mewujudkan itu,” katanya.

Syarwani menyatakan tidak ada progres pembangunan. Dari kasat mata tidak ada pembangunan pelabuhan sebagai akses material bangunan. Mengingat, sebelumnya dalam pertemuan Maret 2021 lalu, pihak PT KHE mengaku sedang membangun pelabuhan di Patok 5, Kecamatan Peso, Bulungan, Kalimantan Utara.

“Pelabuhan kalau di jalan menuju Long Peleban Lejuh belum ada secara fisik, kalau di sekitar desa yang akan direlokasi itu belum ada, di Long Bia juga belum ada,” tegas Syarwani. (/sop/hb)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.