AS Awasi Industri Uang Kripto, Terkait Serangan Ransomware,

Tun MZ

Washington DC, helloborneo.com – Pembayaran uang tebusan untuk serangan ransomware yang diduga berjumlah $590 juta terjadi dalam enam bulan pertama pada tahun ini, dan jumlah tersebut lebih besar dari $416 juta uang tebusan yang dibayarkan sepanjang tahun 2020, kata Departemen Keuangan Amerika pada Jumat (15/10).

Menurut Departemen Keuangan, jumlah rata-rata transaksi ransomware yang dilaporkan per bulan pada 2021 adalah $102,3 juta. Dilaporkan, jenis ransomware yang umum digunakan adalah REvil/Sodinokibi, Conti, DarkSide, Avaddon, dan Phobosn.

Presiden Joe Biden telah menjadikan respons pemerintah terhadap keamanan siber sebagai prioritas utama bagi tingkat paling senior dalam pemerintahannya setelah terjadi rangkaian serangan tahun ini yang mengancam stabilitas pasokan energi dan pangan.

Panduan baru dari Departemen Keuangan menyebutkan industri kripto semakin berperan penting dalam mencegah mereka yang masuk daftar hitam mengeksploitasi mata uang kripto untuk menghindari sanksi. Panduan itu juga menyarankan pertukaran mata uang kripto menggunakan alat geolokasi untuk memblokir akses dari negara-negara di bawah sanksi Amerika.

Peretas menggunakan ransomware untuk menghapus sistem yang mengontrol semuanya, mulai dari tagihan rumah sakit hingga manufaktur. Sistem akan kembali difungsikan kalau pelaku sudah menerima pembayaran yang besar, biasanya dalam mata uang kripto. (voa/tan)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.