Perempuan Afghanistan Ingin Kembali Bersekolah dan Bekerja

Tun MZ

Sahar (17), siswa kelas 11 sekolah menengah Afghanistan, duduk di bekas kelasnya yang kosong, di Kabul, Afghanistan, 20 Oktober 2021. (REUTERS)
Sahar (17), siswa kelas 11 sekolah menengah Afghanistan, duduk di bekas kelasnya yang kosong, di Kabul, Afghanistan, 20 Oktober 2021. (REUTERS)

Afghanistan, helloborneo.com – Sahar yang berusia 17 tahun melihat sekeliling kelas lamanya yang kosong. Remaja Afghanistan itu bermimpi menjadi seorang insinyur, tetapi, setidaknya untuk saat ini, ia terpaksa harus belajar di rumah.

Seperti ratusan ribu perempuan muda Afghanistan lainnya, ia tidak diizinkan kembali ke sekolahnya sejak Taliban merebut kekuasaan pada pertengahan Agustus.

Kelompok garis keras itu hanya mengizinkan laki-laki dan bocah perempuan mengenyam pendidikan. “Sewaktu saya melihat adik perempuan dan adik laki-laki saya yang pergi ke sekolah saya merasa sangat sedih, karena saya tidak bisa melakukan hal yang sama. Sepulang sekolah, mereka mengerjakan pekerjaan rumah dan berbicara tentang teman-teman sekelas dan pelajaran mereka. Saya merasa sedih karena saya tidak bisa pergi ke sekolah,” jelasnya.

Di seberang kota, mimpi Hawa, seorang perempuan muda lainnya, juga tertunda. Mahasiswa berusia 20 tahun itu tak bisa melanjutkan studinya di jurusan sastra Rusia di Universitas Burhanuddin Rabbani, yang belakangan diubah namanya oleh Taliban menjadi Universitas Pendidikan Kabul.

Hawa kecewa karena beberapa pekan setelah mengambil alih kekuasaan, Taliban menutup kementerian perempuan dan menggantinya dengan Kementerian Urusan Kebajikan dan Kejahatan.

Hawa mengatakan ia tidak memiliki harapan untuk masa depannya. “Ketika kementerian perempuan ditutup, ketika kami pergi untuk memprotes Taliban, mereka mengatakan: siapa kalian? Satu-satunya peran kalian adalah memasak, menikah dan duduk di rumah. Kalian tidak perlu bekerja lagi.”

Sewaktu Taliban berkuasa dari 1996-2001, anak-anak perempuan memang tidak diizinkan bersekolah dan semua perempuan dilarang bekerja.

Namun kali ini, para pejabat Taliban berusaha meyakinkan rakyat Afghanistan dan para donor asing bahwa hak-hak rakyat akan dihormati, termasuk dalam hal pendidikan.

Taliban telah berjanji untuk mengizinkan anak perempuan pergi ke sekolah, dan perempuan untuk belajar dan bekerja, setelah rincian tentang bagaimana melakukannya sesuai dengan hukum Islam memperoleh kejelasan.

Taliban juga menyalahkan komunitas internasional karena memotong bantuan, sehingga mempersulit usaha mendanai pembukaan kembali sekolah dan universitas.

Mungkinkah ini terealisasi? Sahar dan Hawa, seperti halnya masyarakat internasional, sebetulnya ragu tapi mereka tidak memiliki pilihan lain selain menunggu. (voa/tan)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.