Kampanye digital merespon pidato Presiden Jokowi menyangkut perubahan iklim. (DP)

Walhi Kaltim Gelar Aksi Dan Kampanye Digital Respon Pidato Jokowi

David Purba

Kampanye digital merespon pidato Presiden Jokowi menyangkut perubahan iklim. (DP)
Kampanye digital merespon pidato Presiden Jokowi menyangkut perubahan iklim. (DP)

Balikpapan, helloborneo.com – Walhi Kalimantan Timur dan beberapa anak muda melakukan aksi dan kampanye digital merespon pidato Presiden Jokowi menyangkut perubahan iklim (COP26) yang disampaikan dalam KTT PBB di Glasgow, Skotlandia pada 1 November 2021.

Aksi dan kampanye digital WALHI Kalimantan Timur dan beberapa anak muda peduli terhadap persoalan perubahan iklim tersebut digelar Jumat (5/11) di beberapa titik yang menjadi spot penting di Kota Balikpapan.

Presiden Jokowi di pidato tersebut mengklaim, yakni Indonesia akan mencapai kontribusi dalam mencapai target net sink (penyerapan karbon) atau mengakhiri deforestasi yang tertuang dalam dokumen komitmen kontribusi nasional (NDC) Indonesia pada 2030 melalui sektor hutan dan sektor energi. 

Penyampaian pertama dalam pidato tersebut Indonesia dalam menahan laju deforestasi yang kemudian berdampak pada penurunan persentase kebakaran hutan sebesar 82% di tahun 2020-2021.

Hal itu dinilai menjadi klaim yang omong kosong, jika dibandingkan kondisi deforestasi pada tahun 2009-2014 dan 2014-2017 terjadi kenaikan angka deforestasi dari sekitar 1,1 juta herkat menjadi 1,3 juta hektar per tahun dan belakangan ini proses deforestasi atau penebangan hutan alam tersebut telah bergeser ke bagian Timur Indonesia.

“Klaim itu tidak dapat dijadikan ukuran mengenai keberhasilan Indonesia dalam target net zero emission, karena penurunan angka deforestasi bukanlah upaya dari pemerintah melainkan memang sudah tidak tersedianya atau berkurangnya hutan alam akibat deforestasi yang dilakukan beberapa tahun sebelumnya,” Jelas anggota Walhi Kaltim Chairil Anwar kepada helloborneo.com. 

Selanjutnya, mengenai komitmen net zero emission dari sektor energi. Presiden menganggap, pemanfaatan energi terbarukan berbasis Biofuel, transisi energi, pemanfaatan baterai litium, kendaraan listrik serta pengembangan kawasan industri hijau merupakan langkah nyata dalam aksi mitigasi perubahan iklim. 

Padahal pada kenyataannya, pemanfaatan Biofuel menuju 100% sama dengan pembabatan hutan alam secara besar-besaran, transisi energi fossil menuju energi terbarukan juga merupakan omong kosong selanjutnya. 

Berdasarkan dokumen RUPTL 2021-2030, Indonesia masih akan menambah kapasitas PLTU sebesar 4.688 MW sampai pada akhir tahun 2021 ini dan penambahan kapasitas sebesar 13.565 MW sampai pada tahun 2027 nanti. 

Dalam pidatonya, Presiden juga menekankan kepada mekanisme pasar dalam praktik perdagangan karbon. “Mekanisme tersebut dalam praktiknya dinilai menjadi satu hal yang hanya menguntungkan negara-negara maju dan korporasi besar saja,” ujarnya. 

Alih-alih menurunkan total emisi yang dihasilkan oleh korporasi tersebut, para-Negara maju hanya akan membayar Negara atau pihak lain yang menjual karbonnya daripada menurunkan total emisinya secara drastis.

Sehingga dapat dipastikan bahwa pidato yang disampaikan oleh Presiden Jokowi pada perhelatan COP26 beberapa waktu lalu tak lebih daripada klaim yang bersifat omong kosong saja.

Kampanye digital merespon pidato Presiden Jokowi menyangkut perubahan iklim. (DP)
Kampanye digital merespon pidato Presiden Jokowi menyangkut perubahan iklim. (DP)

Dampak perubahan iklim sendiri sudah jelas terjadi di Kalimantan Timur. Beberapa wilayah pesisir terjadi banjir besar yang melumpuhkan kegiatan masyarakat. 

Konversi hutan alam dibagian hulu memberikan dampak nyata pada bagian hilir, dan cilakanya rencana pemindahan Ibu Kota Negara dengan konsep Forest City dijadikan alasan bahwasannya investasi mega proyek dapat berdampingan dengan kesejahteraan lingkungan.

Perlibatan kaum muda, masyarakat adat serta kelompok-kelompok penggiat lingkungan lainnya juga sama sekali tidak disinggung oleh Presiden dalam pidato omong kosongnya. Padahal mereka adalah generasi yang secara sustain menyuarakan keterlibatannya dalam menjaga keberlangsungan iklim yang baik.

“Seperti yang diketahui, kondisi lingkungan hidup di Kalimantan Timur sendiri sudah dalam fase krisis yang diakibatkan deforestasi dan alifungsi lahan secara mematikan, akibatnya terjadi degradasi iklim secara derastis dan menyebabkan berbagai bencana ekologis yang tak terhindarkan. Seperti contoh banjir besar baru baru ini yang terjadi di Kabupaten paser dan sempat melumpuhkan aktivitas masyarakat,” ucapnya. (bp/tan)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.