N Rahayu

Berau, helloborneo.com – Berkurangnya penerbangan di Bumi Batiwakkal, berpengaruh pada ekspor kepiting. Selain terbatasnya penerbangan, ketersediaan pelabuhan juga menjadi kendala tersendiri. Hal ini diungkapkn langsung oleh Kepala Dinas Perikanan Berau, Tentram Rahayu.
Ia mengatakan, nilai ekspor kepiting hingga sulit diprediksi jumlah pastinya, namun ia menuturkan nilai ekpsor dipastikan menurun. Karena, pengiriman melalui udara yang biasanya menggunakan pesawat Garuda Indonesia, belum bisa dilakukan kembali, impas dari maskapai tersebut, masih menutup rute di Berau.
“Nilai ekspor kita tidak bisa prediksi,” ungkapnya saat ditemui helloborneo.com, Senin (15/11).
Ia mengatakan karena tidak memiliki pelabuhan langsung, produk kepiting Berau selama ini hanya melalui Tarakan dan Surabaya. Belum lagi, produk Berau tersebut, sudah tidak dipegang oleh satu tangan saja, namun sudah beberapa tangan.
“Produk kita jadi beberapa kali tangan. Semoga lah akan segera dibangun pelabuhan,” ucapnya.
Sedangkan untuk melalui jalur darat, tidak mungkin bisa dilakukan, karena membutuhkan waktu yang lama, sehingga menyebabkan kepiting tersebut mati dalam perjalanan, sementara beberapa konsumen membutuhkan kepiting segar yang masih hidup.
“Kendalanya itu, pendataan juga sulit dilakukan,” lanjutnya.
Namun disisi lain, untuk jenis ikan kerapu, dikatakan Tentram Rahayu, bahwa, pengiriman biasanya dilakukan melalui laut. Yakni menggunakan kapal yang berasal dari Hongkong, dan melalui Maratua, dalam sekali loading, biasanya mencapai 10 ton, dan minimal 7 ton.
“Itu terbesar di Maratua sana untuk jenis kerapu. Serta sudah ada pembeli tetap kalau kerapu itu,” katanya.
Selain berharap ada pembangunan pelabuhan, untuk membantu petani kepiting, Tentram berharap Dinas Perikanan Provinsi membuka cabang dinas di Tanjung Batu. Hal ini bertujuan untuk memudahkan nelayan dalam hal pengurusan izin.
“Itukan bergilir, saat ini kalau tidak salah di kabupaten Penajam Paser Utara. (tan)
















