Para Pemain Tuntut Bukti Nyata Kondisi Petenis China Peng

Tun MZ

Petenis China Shuai Peng tengah berlatih menjelang pertandingan Australian Open di Melbourne Park, Melbourne, Australia, 13 Januari 2019.
Petenis China Shuai Peng tengah berlatih menjelang pertandingan Australian Open di Melbourne Park, Melbourne, Australia, 13 Januari 2019.

Uruguay, helloborneo.com – Para pemain tenis yang mengikuti turnamen Asosiasi Tenis Putri (WTA) di Uruguay berbicara untuk menuntut “bukti nyata” bahwa petenis Peng Shuai dalam keadaan baik-baik saja. Peng menghilang setelah ia menuduh seorang mantan pejabat tinggi pemerintah China melakukan pelecehan seksual.

Petenis Georgia Ekaterine Gorgodze dan petenis Romania Irina Bara ditanya mengenai kasus Peng setelah bermain di turnamen Montevideo Terbuka.

Gorgodze mengatakan para pemain tidak dapat berhenti membicarakan tentang rekan mereka dari China itu dan menambahkan bahwa “apa yang terjadi tidaklah biasa.”

Sementara itu rekan gandanya, Bara, mengatakan, “Kami benar-benar ingin melihat video tentang dia, atau sesuatu seperti bukti nyata bahwa ia sehat dan semuanya baik-baik saja. Ini adalah situasi yang sangat aneh dan kami benar-benar ingin mendengar kabarnya.”

Para pejabat China belum berkomentar apapun secara terbuka sejak tuduhan itu dilontarkan sekitar dua pekan silam oleh Peng, juara ganda Grand Slam, bahwa ia mengalami pelecehan seksual oleh Zhang Gaoli.

Kasus #MeToo pertama yang mencapai ranah politik di China ini belum diberitakan oleh media domestik dan pembahasan daring mengenai kasus ini disensor.

Steve Simon, ketua dan CEO WTA, mempertanyakan otentisitas dari apa yang disebut media pemerintah China sebagai email yang dikirimkan kepadanya. Di dalam email itu Peng menyatakan bahwa ia aman dan tuduhan pelecehan itu tidak benar.

Email itu diposting hari Kamis oleh CGTN, cabang internasional badan penyiaran pemerintah China CCTV.

Tuduhan Peng muncul hanya tiga bulan sebelum Beijing menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin, yang telah menjadi sasaran kampanye pemboikotan dari banyak organisasi HAM, terutama terkait dengan penindasan China terhadap Muslim Uighur. (voa/tan)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.