Sektor Pariwisata Jadi Penopang Ekonomi Masyarakat Merabu, 700 Wisatawan Mancanagera Berkunjung Setiap Tahun

N Rahayu

Berau, helloborneo.com – Keindahan alam Kabupaten Berau memang sudah terkenal hingga ke mancanegara. Selain wisata bawah laut, surga Bumi Batiwakkal juga tersimpan di tengah hutan yang masih asli, seperti di Kampung Merabu, Kecamatan Kelay.

Sekertaris Badan Usaha Milik Kampung (BUMK) Merabu, Franly Aprilano Oley menuturkan, pengelolaan wisata Merabu sepenuhnya dilakukan BUMK. Ia mengaku, pariwisata menjadi sektor paling berpotensi bagi pendukung ekonomi masyarakat Merabu. Karena dari pengelola wisata hanya mengambil fee sebesar 10 persen. Sisanya masuk kedalam kas milik BUMK.

“Jadi semisal jasa guide dipatok harga Rp 150 ribu, nah yang menjadi guide mengambil 10 persen diluar gaji yang nantinya diterima setiap bulan,” jelasnya (3/12).

Ia mengaku, pengelolaan keuntungan tersebut kembali kepada warga kampung. Menurutnya, jika profit pengelolaan wisata dihitung secara nominal memang tidak banyak, tetapi jika dilihat dari segi kebermanfaatan BUMK ini bagi warga itu sangat maksimal.

“Pendapatan Asli Kampung (PAK) memang hanya berkisar antara Rp10-20 juta pertahun. Itu sudah penghasilan bersih dipotong gaji pengurus dan operasional lainnya,” tuturnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, untuk pariwisata Kampung Merabu yang paling diunggulkan ada tiga, yang pertama adalah Danau Niadeng, yang kedua itu adalah Puncak Ketepu. Kalau dari Danau Niadeng ke Puncak Ketepu wisatawan bisa mendaki sekitar satu jam.

“Dan yang paling eksotis yakni Goa Bloyot yang memiliki lukisan tangan dari zaman prasejarah,” ucapnya.

Ia menjelaskan, untuk pengelolaan pariwisata, pihak kampung berupaya menunjukan bahwa inilah alam Kampung Merabu yang sesungguhnya tanpa campur tangan manusia. Jadi diakuinya, pengurus BUMK sengaja tidak membangun fasilitas untuk memudahkan wisatawan yang justru berpotensi merusak keasrian alam itu sendiri.

“Memang ini adalah obyek wisata peminat khusus, jadi sebisa mungkin kami menjaga keaslian alam,” tambahnya.

Untuk tingkat kunjungan wisatawan, diakuinya semenjak Covid-19, pariwisata adalah salah satu sektor yang paling berdampak begitupun di Kampung Merabu, sebelum Covid-19 menurutnya bisa menerima sedikitnya 800 kunjungan wisatawan setiap tahunnya, sedangkan setelah pandemi Covid-19 bisa turun jauh dari kondisi normal.

“Beruntung untuk tahun ini jumlah pengunjung perlahan berangsur normal. Sekira 70 persen pengunjung justru berasal dari mancanegara,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kampung (DPMK) Berau, Ilyas Natsir menuturkan, pihaknya berusaha mendorong peningkatan kampung melalui BUMK. Ia mengatakan, potensi alam Kampung Merabu sudah go internasional.

“Harapan saya Pendapat Asli Kampung (PAK) Merabu yang saat ini berada pada angka sekitar 10 hingga 30 juta, kedepannya bisa meningkat hingga 50 bahkan 100 juta,” paparnya.

Menurutnya, BUMK sebagai lembaga resmi kampung harus mengumpulkan dana abadi kampung yang nantinya digunakan untuk memenuhi kebutuhan kampung apabila Dana Desa maupun Alokasi Dana Kampung (ADK) sudah tidak ada lagi.

“Menurut saya BUMK di Kampung Merabu sudah berjalan baik, tetapi sebaik apapun itu tetap harus ada pengembangan yang dilakukan,” tutupnya. (tan)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.