Yor MS

Balikpapan, helloborneo.com – Sebagian nelayan di Kota Balikpapan memilih berhenti melaut karena menghadapi kelangkaan BBM (bahan bakar minyak) yang terjadi beberapa waktu terakhir.
“Kelangkaan BBM untuk nelayan sebagai persoalan klasik,” ujar Direktur Eksekutif Pokja Pesisir Mappaselle ketika ditemui helloborneo.com di Balikpapan, Jumat.
“Sudah berapa tahun nelayan di Kota Balikpapan mengalaminya dan berdampak pada aktifitas nelayan untuk melaut, kelangkaan menyebabkan para nelayan tidak bisa melaut,” tambahnya.
Kendati mendapatkan BBM, tetapi para nelayan harus rela mengeluarkan biaya tinggi, sebab BBM diperoleh dari luar Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN).
“Kalaupun dapat BBM dengan harga tinggi, karena nelayan memperolehnya tidak di SPBN tapi di pengecer dan tentu saja harganya lebih tinggi dari SPBN,” ucapnya.
Pokja Pesisir sudah acap kali mendesak pemerintah kota dan DPRD, namun sampai saat ini belum ada solusi karena kondisi kelangkaan BBM nelayan sampai saat ini masih terjadi.
“Upaya yang dilakukan sering mendesak pemerintah kota melalui Dinas Kelautan dan Perikanan, serta DPRD juga sudah dilakukan,” kata Mappaselle.
Dalam pengamatannya, ada dua faktor yang menyebabkan kelangkaan BBM nelayan di Kota Balikpapan, yakni kemampuan menghitung kuota kebutuhan BBM nelayan yang belum beres.
Kebutuhan BBM untuk nelayan menurt Mappaselle berbeda-beda bergantung jenis kapal dan alat tangkap ikan yang dipergunakan.
“Jatah BBM berbeda-beda tergantung dari jenis alat tangkapan, kalau nelayan dogol 30-50 liter per hari, nelayan pejala yang bisa lima hari melaut butuh 100 liter, nelaan penongkol dengan kapal yang besar lagi bisa sampai 300 liter;” jelas dia.
Kemudian faktor penyebab kelangkaan BBM selanjutnya, Mappaselle menduga adanya persoalan distribusi sehingga BBM tidak benar-benar sampai ke nelayan.
“Kami Ditengarai ada BBM yang tidak terdistribusi ke nelayan, namum malah dijual untuk keperluan lain,” ungkapnya. (bp/hb)
















